{"id":1614,"date":"2022-07-15T07:47:01","date_gmt":"2022-07-15T00:47:01","guid":{"rendered":"https:\/\/hendritanjung.com\/?p=1614"},"modified":"2022-07-15T07:47:01","modified_gmt":"2022-07-15T00:47:01","slug":"divine-economics","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/2022\/07\/15\/divine-economics\/","title":{"rendered":"DIVINE ECONOMICS"},"content":{"rendered":"\n<p>Pada tanggal 17-18 February 2020 diselenggarakan&nbsp;<em>2<sup>nd<\/sup>&nbsp;Divine Economics Conference<\/em>&nbsp;oleh University of Azad Jammu and Kashmir, Pakistan.&nbsp; Penulis menjadi panelis di hari ke-2 dengan tema \u201cRelevance of Faith and Divinity in Economic Decision Making\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis memulai presentasi dengan mengangkat data GDP percapita dunia dari tahun 1 M sampai tahun 2008 M (Angus Maddison, 2010).&nbsp; Ada yang menarik dari grafik GDP percapita dunia tersebut.&nbsp; Dari tahun 600 M hingga 1300 M, atau yang lebih dikenal dengan&nbsp;<em>The Golden Age of Islam<\/em>, GDP percapita dunia cenderung stabil di angka 453 dollar.&nbsp; Artinya, 700 tahun dimasa kegemilangan Islam, yang identik dengan&nbsp;<em>The Dark Age of Europe<\/em>, pendapatan rata-rata penduduk dunia cenderung stabil.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Periode kestabilan pendapatan rata-rata penduduk dunia juga direkam dari tahun 1300 M hingga revolusi industri tahun 1700an.&nbsp; Selama 400 tahun, GDP percapita dunia tidak meningkat, tetap stabil.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun 1500 M, GDP percapita dunia ada di angka 566 dollar, tahun 1600 di angka 596 dollar dan di tahun 1700 di angka 615 dollar.&nbsp; Barulah setelah revolusi industri tahun 1789 hingga sekarang, GDP percapita dunia melonjak tajam.&nbsp; Dalam 400 tahun terakhir, GDP percapita dunia melonjak lebih dari 10 kali lipat, dari 596 dollar di tahun 1600 M menjadi 7614 dollar tahun 2008 M.&nbsp; Kenaikan yang tajam ini sebagian karena kontribusi revolusi industri, dan sebagian lagi karena kontribusi sistem perbankan berbasis bunga.&nbsp; Adapun perkembangan GDP percapita dunia dari tahun 1 \u2013 2008 M.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagaimana diketahui bersama, sistem perbankan berbasis bunga akan menciptakan uang dari nol.&nbsp; Istilahnya,&nbsp;<em>creating money from nothing<\/em>.&nbsp; Misalnya, dengan reserve 10%, maka perbankan dapat meminjamkan 90 juta kepada nasabah B dari 100 juta deposito nasabah A.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sehingga total uang yang beredar adalah 190 juta (100 juta uang nasabah A dan 90 juta uang nasabah B).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu oleh nasabah B, 90 juta didepositokan lagi ke bank, dengan reserve 10% dari 90 juta atau 9 juta, bank akan meminjamkan 81 juta kepada nasabah C.&nbsp; Sehingga total uang yang beredar adalah 171 juta (90 juta uang nasabah B dan 81 juta uang nasabah C).&nbsp; Lalu oleh nasabah C, 81 juta didepositokan lagi ke bank, dengan reserve 10% dari 81 juta atau 8 juta, bank akan meminjamkan 73 juta kepada nasabah D.&nbsp; sehingga total uang yang beredar adalah 154 juta (81 juta uang nasabah C dan 73 juta uang nasabah D).<\/p>\n\n\n\n<p>Akumuluasi dari nasabah A sampai nasabah D, akan menghasilkan uang sebanyak 344 juta.&nbsp; Dengan proses yang sama, bank akan meminjamkan uang ke nasabah E, F, G dan seterusnya yang pada akhirnya akan menghasilkan akumulasi 900 juta.&nbsp; Sehingga, yang awalnya bank hanya meminjamkan 90 juta, akhirnya&nbsp;<em>money supply<\/em>&nbsp;akan terjadi sebesar 900 juta.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sehingga&nbsp;<em>money multiplier&nbsp;<\/em>sebesar 10.&nbsp;&nbsp;<em>Money multiplier&nbsp;<\/em>adalah berapa kali uang digandakan dengan sistem perbankan.&nbsp; Rumusnya adalah 1\/reserve rasio. Jika reserve rasio 10%, maka multiplier money = 1\/0.1 = 10.&nbsp; Jangan heran, dengan sistem perbankan berbasis bunga, jumlah uang yang beredar berlipat lipat dari ekonomi riil yang ada.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di samping penciptaan uang yang sangat besar, sistem riba juga memberikan kesenjangan ekonomi yang sangat tinggi.&nbsp; GDP percapita negara-negara di dunia merekam data tersebut.&nbsp; Mayoritas negara negara di dunia penduduknya miskin, yang umumnya di Afrika dan Asia, sedangkan sebagian kecil negara-negara di dunia penduduknya kaya (IMF 2019).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hanya terciptanya kesenjangan ekonomi antar negara negara di dunia, namun juga terdapat kesenjangan ekonomi yang sangat besar di dalam satu negara.&nbsp; Misalnya, 4 orang terkaya Indonesia hartanya sama dengan 100 juta orang Indonesia (The Guardian, Kamis 23 Februari 2017).&nbsp; Jika diambil level dunia, 42 orang terkaya tahun 2017 sama hartanya dengan 3,7 miliar manusia (setengah penduduk bumi termiskin).&nbsp; Pada akhirnya, sistem perbankan berbasis bunga, dibarengi dengan revolusi industri hanya menghasilkan penguasaan kekayaan di tangan segelintir orang-orang kaya saja.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em>Divine economics<\/em>&nbsp;(ekonomi wahyu) mengajarkan kepada kita bahwa harta itu jangan hanya berada di segelintir orang saja.&nbsp; Al-qur\u2019an surat al-Hasyar, 59 ayat 7 mengatakan yang artinya:\u201d\u2026agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang orang kaya saja diantara kamu\u201d.&nbsp; Artinya, harus ada mekanisme perputaran harta dalam ekonomi yang akan membuat ekonomi lebih merata.&nbsp; Instrument untuk itu adalah zakat, infak, sedekah dan wakaf (ziswaf).<\/p>\n\n\n\n<p>Dimasa keemasan Islam, disaat perbankan berbasis bunga tidak ada, tidak tercipta&nbsp;<em>money supply<\/em>&nbsp;yang sangat besar.&nbsp; Uang yang beredar selalu sama dengan volume ekonomi sektor riil. Di saat yang sama, mereka patuh membayar zakat dan sangat gemar untuk berinfak dan bersedekah, sekaligus berwakaf.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Solusi ekonomi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Berkaca pada dua sebab utama kesenjangan ekonomi, yaitu: penciptaan uang yang sangat besar, dan bertumpuknya kekayaan di segelintir orang saja, maka agar ekonomi lebih merata, solusinya adalah hilangkan sistem riba dalam ekonomi dan gerakkan sistem ekonomi berbasis sedekah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 276 yang artinya :\u201dAllah akan menghancurkan (sistem ekonomi berbasis) riba dan akan menyuburkan (sistem ekonomi berbasis) sedekah.&nbsp; Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Perilaku orang yang percaya ekonomi wahyu (<em>divine economics<\/em>) akan berbeda dengan yang tidak.&nbsp; Orang yang percaya wahyu, dia tidak akan melakukan riba.&nbsp; Dia akan berhubungan dengan lembaga keuangan bebas riba.&nbsp; Dia akan berhubungan dengan bank syariah, asuransi syariah, koperasi syariah, pegadaian syariah, dan lembaga-lembaga keuangan syariah lainnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di samping itu, orang yang percaya wahyu akan rutin membayar zakat, gemar bersedekah, berinfak dan berwakaf.&nbsp; Mereka rela mengorbankan harta pribadinya di jalan Allah.&nbsp; Mereka tidak segan-segan untuk melepaskan hak milik pribadinya dan menyerahkannya sebagai wakaf.&nbsp; Mereka senang berbagi dan memperhatikan orang lain yang kesusahan.&nbsp; Sifat tolong menolong mereka terapkan dalam ekonomi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaannya, kenapa mereka melakukan semua itu?&nbsp; Jawaban sederhananya adalah karena IMAN.&nbsp; Inilah relevansi keimanan dengan keputusan ekonomi.&nbsp; Mereka yakin bahwa apa saja harta yang diberikan di jalan Allah (karena perintah wahyu), akan mendapat ganjaran dan gantinya di sisi Allah dengan ganti yang lebih baik dan lebih besar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Allah berfirman dalam surat Saba, 34 ayat 39 yang artinya: \u201cKatakanlah: Sungguh TuhanKu melapangkan dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki diantara hamba hambaNya.&nbsp; Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, orang beriman sangat memahami hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi yang artinya: \u201cSesungguhnya pada setiap ummat, ada ujiannya. Dan Ujian ummatku adalah harta\u201d.&nbsp; Artinya, orang beriman tidak mau tergoda dengan harta, karena mereka yakin sekali harta itu merupakan ujian.&nbsp; Kebanyakan manusia lulus ujian ketika kesusahan, tetapi banyak yang tidak lulus ujian dengan kesenangan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kenapa banyak orang yang tidak lulus dengan ujian kesenangan?&nbsp; Karena mereka tidak mau memberikan sebagian harta mereka di jalan Allah.&nbsp; Syetan membisiki mereka dengan takut miskin.&nbsp; Seperti tercantum dalam Alqur\u2019an surat Al-Baqarah, 2 ayat 268 yang artinya: \u201cSyetan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunianya kepadaMu, dan Allah maha luas, maha mengetahui\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Di akhir presentasi&nbsp;<em>Divine Economic Conference<\/em>&nbsp;yang durasinya hanya 15 menit itu, penulis mengajak para peserta&nbsp;<em>conference<\/em>&nbsp;untuk taat membayar zakat dan gemar memberikan infak, sedekah dan wakaf untuk ekonomi yang lebih baik.&nbsp; Ajakan yang sama juga untuk pembaca, tentunya.&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis : H Hendri Tanjung, Ph.D<\/p>\n\n\n\n<p>Diterbitkan : Majalah peluang<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada tanggal 17-18 February 2020 diselenggarakan&nbsp;2nd&nbsp;Divine Economics Conference&nbsp;oleh University of Azad Jammu and Kashmir, Pakistan.&nbsp; Penulis menjadi panelis di hari ke-2 dengan tema \u201cRelevance of Faith and Divinity in Economic Decision Making\u201d. Penulis memulai presentasi dengan mengangkat data GDP percapita dunia dari tahun 1 M sampai tahun 2008 M (Angus Maddison, 2010).&nbsp; Ada yang menarik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1817,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-1614","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-knowledge"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1614","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1614"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1614\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1817"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1614"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1614"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1614"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}