{"id":2468,"date":"2023-08-04T11:18:04","date_gmt":"2023-08-04T04:18:04","guid":{"rendered":"https:\/\/hendritanjung.com\/?p=2468"},"modified":"2023-08-04T11:18:04","modified_gmt":"2023-08-04T04:18:04","slug":"kebijakan-moneter-islami","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/2023\/08\/04\/kebijakan-moneter-islami\/","title":{"rendered":"KEBIJAKAN MONETER ISLAMI"},"content":{"rendered":"\n<p>Saat ini, kebijakan moneter sudah diterima secara luas mempunyai peranan dominan dalam mengontrol aggregate demand dan inflasi.&nbsp;&nbsp; Secara garis besar, kebijakan moneter adalah kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan jumlah uang beredar, tingkat suku bunga dan nilai tukar.&nbsp; Jumlah uang beredar dalam ekonomi diatur oleh instrument suku bunga dalam ekonomi modern.&nbsp; Jumlah uang beredar dikontrol oleh bank sentral melalui instrument kebijakan discount rate , yaitu suku bunga.&nbsp; Ketika terjadi inflasi, bank sentral meningkatkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, agar sedikit uang mengalir ke bank komersil, dan sedikit uang mengalir ke dalam ekonomi, sehingga menurunkan Jumlah uang beredar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam ekonomi Islam, tidak ada system bunga.&nbsp; Sehingga dalam ekonomi islam, bank sentral tidak dapat menerapkan kebijakan discount rate tersebut.&nbsp; Bank sentral Islam memerlukan instrument yang bebas bunga untuk mengontrol kebijakan moneter dalam ekonomi islam.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaannya adalah, apakah bank sentral&nbsp; pada sistem ekonomi islam memiliki instrument untuk mengontrol kebijakan moneter?&nbsp; Jawabnya adalah YA.&nbsp; Terdapat beberapa instrument bebas bunga yang dapat digunakan oleh bank sentral untuk meningkatkan atau menurunkan jumlah uang beredar.&nbsp; Penghapusan system bunga tidak menghambat bank untuk mengontrol Jumlah uang beredar dalam ekonomi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>INSTRUMEN KEBIJAKAN MONETER ISLAMI<\/p>\n\n\n\n<p>Secara mendasar, terdapat beberapa instrument kebijakan moneter dalam ekonomi Islam, yaitu: Reserve Ratio, Moral suasion, Lending ratio, Refinance Ratio, Profit Sharing Ratio, Islamic sukuk, dan GIC:Government Investment Certificate.&nbsp; Dua dari instrument ini yaitu Reserve Ratio dan Moral suasion juga digunakan BANK sentral dengan system konvensional.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>1. Reserve Ratio.\u00a0 Reserve Ratio adalah suatu persentase dari simpanan bank komersial yang harus dipegang oleh bank sentral, misalnya 5 persen.\u00a0 Hal ini berarti jika bank komersial menerima 100 milyar sebagai dana tabungan, maka harus ditransfer ke bank sentral sebanyak 5 milyar rupiah sebagai reserve (cadangan).\u00a0 Sehingga bank komersial hanya memegang 95 persen dari seluruh dana tabungan nasabah.\u00a0 Dengan jumlah 95 persen ini, bank komersial dapat memberikan kredit kepada investor.\u00a0 Jika bank sentral ingin mengontrol jumlah uang beredar, maka bank sentral akan menaikkan reserve ratio , misalnya dari 5 persen menjadi 20 persen.\u00a0 Dampaknya adalah sisa uang yang ada pada komersial bank menjadi lebih sedikit dan kapasitas untuk memberikan kredit menjadi lebih kecil dan jumlah uang beredar menjadi lebih sedikit.<\/p>\n\n\n\n<p>2. Moral Suassion.\u00a0 Bank sentral dapat membujuk bank komersial untuk meningkatkan permintaan kredit sebagai tanggung jawab mereka, ketika ekonomi berada dalam keadaan depresi.\u00a0 Sebagaimana diketahui bersama, kredit sangat dibutuhkan pada masa depresi, agar uang dapat dipompa ke dalam ekonomi.\u00a0 Hal ini dapat dilakukan bank sentral dengan mengirim surat kepada bank komersil.\u00a0 Dengan meningkatkan kredit, maka uang akan mengalir ke tangan masyarakat dan daya beli masyarakat akan meningkat, total permintaan akan meningkat, pada akhirnya keuntungan akan meningkat.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>3. Lending Ratio.\u00a0 Dalam ekonomi Islam, tidak ada istilah Meminjamkan (Lending).\u00a0 Lending tidak dikenal dalam ekonomi Islam.\u00a0 Lending ratio dalam hal ini berarti Qardhul hasan\u00a0 (pinjaman kebajikan).\u00a0 Bank komersil menerima satu deposit yang disebut Amanah deposit.\u00a0 Amanah deposit adalah account pada bank komersil yang tidak ada tambahan apapun terhadap deposit itu.\u00a0 Bank sentral dapat meminta bank komersil untuk mengalokasikan sejumlah persentase tertentu (misalnya 30 atau 40 persen) dari Amanah deposit untuk diberikan kepada masyarakat miskin melalui skim qardhul hasan.\u00a0 Kapanpun ada kebutuhan untuk meningkatkan jumlah uang beredar, bank sentral dapat meningkatkan lending ratio agar bank komersil memberikan lebih banyak qardhul hasan kepada masyarakat.\u00a0 Akibatnya lebih banyak uang yang mengalir ke tangan masyarakat.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>4. Refinance Ratio.\u00a0 Refinance ratio sangat berarti pada bank komersil dalam ekonomi Islam, dimana mereka memberi pinjaman kepada masyarakat untuk kebutuhan ekonomi.\u00a0 Di Pakistan, sebagian besar sektor ekspor dibiayai dengan skim refinance ini.\u00a0 Bank sentral memberikan perintah kepada bank komersil\u00a0 (misalnya: Habib Bank) untuk mengalokasikan sejumlah uang untuk membiayai sektor ekspor dengan basis bebas bunga.\u00a0 Refinance ratio adalah sejumlah proporsi dari pinjaman bebas bunga yang diberikan bank komersil kepada nasabah, yang kemudian dibayarkan kembali oleh bank sentral.\u00a0 Refinance dalam kasus ini bermakna sejumlah proporsi dari pinjaman bebas bunga dari bank komersil yang di bayar kembali oleh bank sentral.\u00a0 Ketika Refinance ratio meningkat, bank sentral mendorong dan memberikan pembiayaan yang lebih banyak kepada sektor swasta.\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>5. Profit Sharing Ratio.\u00a0 Rasio bagi keuntungan (profit sharing ratio) harus ditentukan sebelum memulai suatu bisnis.\u00a0 Begitu profit sharing ratio ditetapkan, maka tidak dapat diubah-ubah lagi.\u00a0 Profit sharing ratio= Brp + drp.\u00a0 Brp adalah ratio keuntungan untuk Bank dan drp adalah rasio keuntungan untuk nasabah penabung (depositors).\u00a0 Bank sentral dapat menggunakan profit sharing ratio sebagai instrument moneter.\u00a0 Ketika bank sentral ingin meningkatkan jumlah uang beredar, drp akan ditingkatkan, sehingga akan lebih banyak uang mengalir ke dalam bank dari nasabah penabung.\u00a0 Hal ini menjadi daya tarik bagi penabung untuk menyimpan uangnya lebih banyak lagi di bank dalam bentuk tabungan mudharabah.\u00a0 Akibatnya, bank komersil mempunyai kapasitas untuk memberikan lebih banyak pembiayaan kepada investor yang pada akhirnya meningkatkan volume investasi di dalam ekonomi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>6. Sukuk.\u00a0 Sukuk adalah obligasi pemerintah dimana ada property yang mengikuti sukuk tersebut.\u00a0 Pada akhir tahun, pendapatan didistribusikan kepada pemegang sukuk.\u00a0 Distribusi pendapatan dapat juga dilakukan dengan basis bulanan atau tiga bulanan.\u00a0 Di Pakistan, Pemerintah mengeluarkan sukuk untuk membangun jalan tol dari kota Lahore ke kota Rahwalpindi berjarak kurang lebih 400 km.\u00a0 Sukuk pun dapat dijadikan instrument kebijakan moneter.\u00a0 Ketika inflasi, pemerintah mengeluarkan sukuk lebih banyak, sehingga uang akan mengalir ke bank sentral dan jumlah uang beredar akan tereduksi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>7. GIC:Government Investment Certificate.\u00a0 GIC adalah suatu sertifikat yang tidak ada komitmen untuk memberikan tambahan apapun ketika nanti akan dikembalikan (Qardhul Hasan).\u00a0 Tetapi pada akhir tahun, pemerintah akan memberikan sedikit tambahan yang jumlahnya terserah pemerintah (semacam hadiah atau hibah).\u00a0 Kapanpun bank sentral ingin menurunkan jumlah uang beredar, sertifikat tersebut akan dijual kepada bank komersil, dan uang akan mengalir ke bank sentral dan menurunkan kemampuan penciptaan kredit pada bank komersil.\u00a0 Ketika bank sentral ingin meningkatkan jumlah uang beredar, sertifikat tersebut akan dibeli kembali dari bank komersil, dan uang akan mengalir ke bank komersil dan meningkatkan kemampuan penciptaan kredit pada bank komersil.\u00a0 Wallahu A\u2019lam.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis : <strong>Dr. Hendri Tanjung, Ph.D<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Anggota komite Pengembangan Moneter MES Pusat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sumber : Jurnal Ekonomi Islam Iqtishodia, Republika, Kamis, 27 Juni 2013.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat ini, kebijakan moneter sudah diterima secara luas mempunyai peranan dominan dalam mengontrol aggregate demand dan inflasi.&nbsp;&nbsp; Secara garis besar, kebijakan moneter adalah kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan jumlah uang beredar, tingkat suku bunga dan nilai tukar.&nbsp; Jumlah uang beredar dalam ekonomi diatur oleh instrument suku bunga dalam ekonomi modern.&nbsp; Jumlah uang beredar dikontrol oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2411,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-2468","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-knowledge"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2468","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2468"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2468\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2468"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2468"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2468"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}