{"id":37,"date":"2019-07-17T17:39:00","date_gmt":"2019-07-17T10:39:00","guid":{"rendered":"http:\/\/hendritanjung.com\/?p=37"},"modified":"2019-07-17T17:39:00","modified_gmt":"2019-07-17T10:39:00","slug":"bwi-wakaf-bisa-menjadi-jantung-ekonomi-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/2019\/07\/17\/bwi-wakaf-bisa-menjadi-jantung-ekonomi-indonesia\/","title":{"rendered":"BWI: Wakaf Bisa Menjadi Jantung Ekonomi Indonesia"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Hidayatullah.com\">Hidayatullah.com<\/a><\/strong>\u2013\n Indonesia mempunyai potensi wakaf yang sangat besar. Hal itu \ndisampaikan oleh salah satu anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) Dr \nHendri Tanjung di sela-sela melakukan kunjungan ke Islamabad, Pakistan \nbelum lama ini.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKarena orang Indonesia orangnya jiwa memberi dan menolongnya kuat. \nMereka ingin menolong orang lain itu cepet tersentuh,\u201d katanya saat \nbertemu&nbsp;koresponden <a href=\"https:\/\/www.hidayatullah.com\"><strong><em>hidayatullah.com<\/em><\/strong><\/a> di Islamabad. Misalnya, saat penggalangan dana untuk Palestina, masyarakat Indonesia begitu ringan tangan memberikan bantuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Hendri juga mengatakan bahwa wakaf bisa menjadi jantung ekonomi di \nIndonesia. Bahwa wakaf bisa disinergikan dengan bagian-bagian lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cWakaf (disinergikan) dengan haji misalnya. Itu kan orang-orang  (daftar haji) yang artinya punya duit, kita minta aja setiap jamaah haji  wakaf Rp 100.000 uang <em>cash<\/em>. Kita punya 210.000 jamaah haji per  tahun, dikali Rp 100.000, itu udah Rp 21 miliar per tahun,\u201d jelas  peraih gelar Doktor Ekonomi dari International Islamic University of  Islamabad (IIUI) ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan dana wakaf yang terkumpul tersebut, jelasnya, bisa digunakan \nuntuk membangun rumah sakit atau sesuatu lainnya yang dapat \nmenguntungkan umat.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, Wakil Direktur Universitas Ibnu Khaldun Bogor ini \nmenerangkan bahwa wakaf juga bisa disinergikan dengan asuransi, bank, \natau dengan zakat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDengan asuransi sekarang sudah ada, namanya polis wakaf wasiat \nasuransi. Misalnya kalau saya beli asuransi jiwa kan. Kalau saya \nkecelakaan, saya meninggal, kan saya dapat klaim, katakan dapat klaimnya\n Rp 500 juta. Nah itu saya bisa buat wasiat Rp 200 juta saya wakafkan \nuntuk nazir si anu, untuk Rumah Sakit Islam Bogor, misalnya,\u201d terangnya \nmenggambarkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Artinya, lanjut Hendri, bahwa wakaf ini bisa menjadi sentral yang bisa disinergikan dengan aspek-aspek yang lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMasyarakat harus sadar bahwa besarnya \npotensi wakaf tersebut bisa kita sinergikan untuk mengatasi masalah \nekonomi di Indonesia. Jadi wakaf ini sebagai jantung, jantung ekonomi \nini. Bisa ke bank, zakat, haji,\u201d pungkas Hendri.* <strong><em>Adin<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Rep: Admin Hidcom<br>Editor: Muhammad Abdus Syakur<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber: https:\/\/www.hidayatullah.com\/berita\/ekonomi-syariah\/read\/2019\/07\/17\/167810\/bwi-wakaf-bisa-menjadi-jantung-ekonomi-indonesia.html<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hidayatullah.com\u2013 Indonesia mempunyai potensi wakaf yang sangat besar. Hal itu disampaikan oleh salah satu anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) Dr Hendri Tanjung di sela-sela melakukan kunjungan ke Islamabad, Pakistan belum lama ini. \u201cKarena orang Indonesia orangnya jiwa memberi dan menolongnya kuat. Mereka ingin menolong orang lain itu cepet tersentuh,\u201d katanya saat bertemu&nbsp;koresponden hidayatullah.com di Islamabad. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":38,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-37","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-coverage"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=37"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=37"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=37"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hendritanjung.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=37"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}