Meraih Hati yang Lembut dan Bercahaya: Rahasia Mengingat Kematian
Bulan Ramadan bukan sekadar momen menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah untuk menyucikan jiwa. Dalam kajian pembuka seri Ramadan ini, Buya H. Hendri Tanjung menyampaikan bahwa target utama bagi setiap Muslim setelah melewati bulan suci ini adalah memiliki hati yang lebih lembut dan lebih bercahaya dibandingkan sebelumnya.
Kunci Kelembutan Hati: Mengingat Kematian
Bagaimana cara efektif untuk melembutkan hati yang keras? Buya Hendri menekankan bahwa salah satu cara utama adalah dengan memperbanyak mengingat kematian. Kematian adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh siapapun, ke mana pun manusia pergi, maut pasti akan menghampiri.
Namun, realitanya banyak manusia yang enggan menerima kenyataan ini. Sebagaimana digambarkan dalam kutipan puisi Chairil Anwar, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi,” manusia secara naluriah sering kali terjebak dalam ketakutan yang luar biasa terhadap kematian dan berharap bisa hidup selamanya di dunia.
Tamak akan Kehidupan Dunia
Keserakahan manusia akan umur panjang diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 96. Ayat tersebut menjelaskan bagaimana golongan tertentu sangat tamak terhadap kehidupan dunia, bahkan berharap diberi umur hingga 1.000 tahun.
Buya mengingatkan bahwa:
- Umur yang panjang tidak menjamin seseorang terlepas dari azab Allah.
- Keinginan manusia tidak akan pernah berakhir; banyak orang meninggal dunia dengan membawa segudang keinginan yang belum tercapai.
- Godaan untuk “hidup kekal” sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS melalui tipu daya setan dengan buah Khuldi (buah keabadian).
Perspektif Optimis vs Pesimis terhadap Maut
Kematian adalah fenomena yang paling kuat bagi makhluk hidup. Bahkan menurut filsuf Will Durant, kematian adalah asal-usul dari semua agama; jika tidak ada kematian, mungkin manusia tidak akan mencari Tuhan.
Dalam menghadapi fakta kematian, manusia terbagi menjadi dua pandangan:
- Pandangan Pesimis: Menganggap hidup sebagai beban berat, penuh kesedihan, dan penderitaan yang berakhir dengan kematian. Hal ini sering memicu prinsip “aji mumpung” atau melakukan segala hal tanpa batas karena merasa hidup hanya sekali.
- Pandangan Optimis: Menilai hidup sebagai sebuah penghormatan dan tanggung jawab yang harus dijalani dengan kesyukuran. Kematian dipandang sebagai gerbang menuju kebahagiaan sejati.
Kesimpulan: Menjadi Pribadi yang Optimis
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk mengambil pandangan yang optimis. Mari kita jadikan sisa umur kita sebagai ladang untuk meraih kebahagiaan dengan mengikuti petunjuk Allah SWT. Dengan mengingat kematian secara bijak, hati kita akan menjadi lebih lembut, rendah hati, dan senantiasa bersiap memberikan yang terbaik sebelum waktu kita tiba