Menggapai Kelembutan Hati dengan Mengingat Kematian: Antara Pesimisme dan Optimisme
Dalam perjalanan spiritual di bulan Ramadhan, salah satu cara efektif untuk melembutkan hati yang keras adalah dengan mengingat kematian. Namun, cara manusia memandang titik akhir kehidupan ini sangatlah beragam. Dalam ceramahnya, Buya H. Hendri Tanjung, Ph.D. membedah dua perspektif utama manusia dalam menghadapi kematian: kelompok pesimis dan kelompok optimis.
1. Pandangan Kelompok Pesimis: Kematian sebagai Kepunahan
Kelompok pesimis melihat kematian sebagai akhir dari segalanya atau sekadar penghenti penderitaan. Beberapa poin utama dari pandangan ini antara lain:
- Paham “Aji Mumpung”: Karena menganggap hidup akan berakhir begitu saja, mereka cenderung melakukan apa pun yang menyenangkan hati tanpa menghiraukan nilai-nilai moral, demi mewujudkan eksistensi semata.
- Kematian sebagai Pelarian: Sebagian tokoh filsafat, seperti Schopenhauer, menganggap ketiadaan hidup lebih nyaman daripada tidur. Sementara Jean-Paul Sartre memandang kematian sebagai risiko hidup yang tidak perlu terlalu dipikirkan, karena tidak ada kehidupan setelahnya.
- Hiburan dalam Kebersamaan: Ada pemikiran bahwa kesedihan menghadapi maut berkurang karena “kita semua akan mati”, bukan hanya “saya yang mati”.
2. Pandangan Kelompok Optimis: Kematian sebagai Pintu Keabadian
Berbeda jauh dengan kaum pesimis, kelompok optimis melihat kematian bukan sebagai titik henti, melainkan sebuah transisi menuju kesempurnaan.
- Perpindahan Tempat: Sejak zaman manusia primitif hingga modern, tradisi menziarahi kubur membuktikan bahwa manusia enggan menganggap kematian sebagai kepunahan. Kematian hanyalah perpindahan dari satu alam ke alam yang lain.
- Analogi Kulit Telur: Mengutip Abu Al-Faraj Al-Isfahani, kehidupan dunia ibarat kulit telur bagi seekor unggas. Seekor ayam tidak akan mencapai kesempurnaan hidup jika ia tidak pecah dan keluar dari kulit telurnya. Demikian pula manusia; kematian adalah tangga menuju hidup yang abadi.
- Visi Para Filsuf dan Ulama: Socrates pernah menyatakan bahwa di balik rahasia kematian, ia menemukan kehidupan abadi. Oleh karena itu, kita sebaiknya “prihatin dengan kehidupan dan bergembira dengan kematian” karena kita mati untuk benar-benar hidup.
3. Perspektif Islam: Mengurangi Cemas dengan Iman
Agama Islam hadir untuk mempertebal optimisme dan mengurangi rasa cemas terhadap misteri setelah kematian.
- Menghilangkan Ketakutan: Ketakutan akan maut sering kali muncul karena sifatnya yang misterius. Islam memberikan gambaran melalui wahyu (Al-Qur’an dan Hadis) tentang apa yang akan terjadi, sehingga manusia bisa bersiap.
- Janji Kebahagiaan: Dalam Surah Al-Waqi’ah ayat 89, Allah menjanjikan ketenangan dan surga bagi mereka yang beriman. Hal inilah yang menjadi penyemangat bagi umat Muslim untuk terus beramal saleh.
Penutup: Cara Melembutkan Hati
Sebagai penutup, Buya Hendri Tanjung berpesan bahwa untuk meraih hati yang lembut, kita dianjurkan untuk memperbanyak mengingat kematian. Caranya adalah dengan sering berziarah, melihat prosesi pemakaman, dan mengantarkan jenazah hingga ke liang lahad. Pengalaman-pengalaman nyata ini akan menyadarkan kita akan hakikat kehidupan dan membuat hati lebih bercahaya, terutama di bulan suci Ramadhan.