Dalam episode ketiga serial tausiyahnya, Buya Hendri Tanjung, Ph.D menekankan bahwa kunci untuk mendapatkan hati yang lembut dan bercahaya selama bulan Ramadan adalah dengan mendalami hakikat kematian. Kematian seringkali menjadi momok yang menakutkan bagi manusia karena membawa konsekuensi kehilangan-mulai dari kehilangan orang yang dicintai, jabatan, hingga harta benda. Namun, cara seseorang menyikapi ketakutan ini terbagi menjadi dua pandangan besar, yaitu mazhab religius dan mazhab sekuler.

Kelompok yang menggunakan pendekatan religius memandang ketakutan akan kematian sebagai dorongan untuk kembali kepada ajaran agama. Alih-alih sekadar menolak kenyataan, mereka mempersiapkan diri dengan tiga amalan utama yang dapat memperpanjang “umur” manfaat mereka di dunia, yaitu amal jariyah melalui harta yang diwakafkan untuk kepentingan umat, mendidik anak yang saleh agar senantiasa mendoakan orang tuanya, serta menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Dengan persiapan ini, seorang mukmin akan merasa lebih tenang karena malaikat akan datang menghibur mereka dengan janji surga, sehingga rasa takut dan sedih saat ajal menjemput dapat berganti dengan senyuman.

Sebaliknya, mazhab sekuler menghadapi ketakutan akan kematian dengan cara memuaskan hawa nafsu dan mencari keabadian semu di dunia. Mereka berusaha agar namanya tetap dikenal melalui kepemilikan aset mewah seperti apartemen, hotel, atau pulau, tanpa mempedulikan ridha Allah. Kelompok ini cenderung menikmati hidup sepuasnya demi menutupi kecemasan akan berakhirnya eksistensi mereka. Buya Hendri mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam pola pikir sekuler ini, yang hanya mengejar pengakuan duniawi yang fana.

Sebagai penutup, bulan Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menekan hawa nafsu maksiat dan menonjolkan ketaatan kepada Allah. Dengan memahami bahwa kematian adalah pemutus segala kenikmatan dunia, hati seseorang akan menjadi lebih lembut, mudah berempati kepada sesama, dan lebih khusyuk dalam bermunajat di malam hari. Melalui pendekatan religius yang benar, seorang muslim diharapkan dapat mengakhiri bulan suci dengan hati yang bercahaya dan siap menghadap Sang Pencipta dengan penuh rida.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *