CIKARANG – Pada pelaksanaan salat Jumat, 17 April 2026, Masjid Raya Attauhid Cikarang menghadirkan khatib Buya H. Hendri Tanjung, Ph.D. Dalam khotbahnya yang berlangsung khidmat, beliau mengangkat tema krusial pasca-Ramadan, yaitu “Keutamaan Memaafkan”.

Mengingat saat ini masih dalam suasana bulan Syawal, Buya Hendri Tanjung mengajak para jemaah untuk tidak hanya melakukan tradisi halalbihalal secara seremonial, tetapi benar-benar membersihkan hati dengan melapangkan dada atas kesalahan orang lain.

Memaafkan Meski Sangat Berat
Dalam materinya, beliau memberikan perumpamaan yang menggugah nalar kemanusiaan: bagaimana jika seseorang yang rutin kita bantu justru memfitnah keluarga kita dengan keji? Beliau mengambil teladan dari kisah Abu Bakar Ash-Siddiq R.A.

Abu Bakar sempat menghentikan bantuan kepada kerabatnya yang turut menyebarkan fitnah terhadap Siti Aisyah. Namun, melalui Surat An-Nur ayat 22, Allah SWT menurunkan wahyu yang memerintahkan untuk memaafkan dan melapangkan dada.

“Janganlah seseorang yang sudah memberikan bantuan menghentikan bantuan tersebut… Maafkanlah dia dan lapangkanlah dadamu,” urai Hendri Tanjung mengutip saripati ayat tersebut.

Memaafkan adalah Syarat Diampuni Allah
Hendri Tanjung menekankan bahwa keuntungan terbesar dari memaafkan bukanlah untuk orang yang bersalah, melainkan untuk diri kita sendiri. Beliau menjelaskan bahwa dengan memaafkan kesalahan orang lain, maka Allah SWT akan mengampuni kesalahan-kesalahan kita.

“Tidak ada cara lain untuk mendapatkan keampunan dari Allah, selain dengan memaafkan semua orang yang punya kesalahan dengan kita, sekecil atau sebesar apa pun itu,” tegasnya di hadapan jemaah.

Pelajaran dari Kisah Nyata
Menutup khotbahnya, beliau membagikan sebuah kisah nyata tentang dua orang tetangga ahli masjid yang tidak saling tegur sapa selama dua tahun karena konflik pribadi. Ketegangan tersebut berujung pada beban batin yang luar biasa, hingga salah satunya jatuh sakit. Namun, setelah keduanya dimediasi untuk saling memaafkan, ketenangan pun hadir sebelum akhirnya salah satu dari mereka wafat seminggu kemudian.

Beliau mengingatkan para jemaah agar jangan sampai meninggalkan dunia dengan menyimpan dendam atau penyakit hati. Beliau mengajak seluruh jemaah untuk menjadi pribadi yang pemaaf demi meraih rida Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *