BOGOR – Dr. Hendri Tanjung menyampaikan khotbah Jumat yang penuh khidmat di hadapan para jemaah Masjid Baitussyifa, Rumah Sakit Islam Bogor, pada Jumat, 3 Juli 2026. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengangkat tema penting mengenai spiritualitas umat muslim yang bertajuk “Tiga Pilar Nutrisi Jiwa”.
Mengawali khotbahnya, Dr. Hendri Tanjung mengutip sebuah hadis dari Ibnu Mas’ud RA yang mengingatkan umat Islam untuk senantiasa mencari dan memeriksa kondisi hati mereka di tiga tempat utama: saat mendengarkan Al-Qur’an, di majelis zikir, dan saat menyendiri untuk bermunajat kepada Allah. Beliau menekankan bahwa jika hati tidak bergetar atau tidak terasa hidup di ketiga tempat tersebut, maka seseorang harus memohon hati yang baru kepada Allah, karena bisa jadi hatinya telah mati.
“Sama halnya dengan fisik manusia yang membutuhkan asupan makanan halal dan baik (thayyib), jiwa manusia pun membutuhkan nutrisi agar tetap hidup dan sehat,” jelas Dr. Hendr.
Beliau kemudian menjabarkan tiga pilar nutrisi jiwa tersebut secara rinci:
Mendengarkan dan Membaca Al-Qur’an: Dr. Hendri mengajak jemaah untuk membiasakan diri mendengarkan lantunan ayat suci, baik melalui bacaan sendiri maupun murattal.Beliau memberikan contoh praktis, seperti memanfaatkan waktu di dalam kendaraan saat melakukan perjalanan untuk memutar Al-Qur’an ketimbang mendengarkan musik.
Menghadiri Majelis-Majelis Zikir dan Ilmu: Mengikuti kajian keislaman dinilai sangat penting agar hati tidak menjadi keras dan mati.Beliau turut mengapresiasi dan mengajak jemaah untuk meramaikan majelis ilmu rutin yang diadakan di Masjid Baitussyifa setiap Rabu pagi. Selain itu, beliau memberikan contoh program terstruktur seperti Pesantren Senior Citizen yang digelar secara online untuk memfasilitasi umat dalam memperdalam ilmu fikih, kesehatan ala Rasul, tafsir, dan akidah. Menurutnya, bahkan seorang ustaz atau dai pun tetap wajib duduk belajar di majelis ilmu demi menjaga kehidupannya jiwanya.
Bermunajat di Tengah Malam (Kesendirian bersama Allah): Pilar ketiga adalah menghidupkan malam melalui ibadah salat tahajud. Dr. Hendri mengimbau jemaah untuk menyempatkan diri bangun di sepertiga malam terakhir, minimal mendirikan salat dua rakaat untuk mengadu dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Waspadai Ego dan Kesombongan sebagai Perusak Hati
Pada khotbah kedua, Dr. Hendri Tanjung mengingatkan jemaah mengenai musuh terbesar yang dapat mengeraskan hati, yaitu sifat ego dan sombong (kibr). Beliau mencontohkan kisah Abu Jahal dan Abu Lahab yang sebenarnya mengetahui kebenaran Islam, namun tertutup oleh ego dan kesombongan sehingga menolak untuk beriman.
Beliau juga mengingatkan bahwa kesombongan adalah dosa dan penyakit hati pertama di alam semesta, yang dicontohkan ketika Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam karena merasa dirinya lebih mulia
“Mari kita buang jauh-jauh ego dan kesombongan dari dalam diri kita. Hadirkanlah sifat tawaduk dan rendah hati, meneladani para ulama salafus saleh yang memiliki ilmu luar biasa namun tetap memiliki kerendahan hati yang tinggi,” pungkas Dr. Hendri sebelum menutup khotbah dengan doa bersama jemaah