Bencana Banjir Sumatera: Apa yang Harus Kita Lakukan?
Bencana banjir besar yang melanda wilayah Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) bukan sekadar fenomena alam biasa. Ustadz H. Hendri Tanjung, Ph.D., dalam kajiannya di Masjid Al-Hidayah, menyoroti bahwa bencana ini merupakan pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga ekologi dan menumbuhkan rasa kepedulian sosial.
1. Akar Masalah: Kerusakan Tangan Manusia
Merujuk pada Surah Ar-Rum ayat 41, kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah tangan manusia sendiri, Banjir di Sumatera kali ini sangat memprihatinkan karena bukan hanya membawa air, tetapi juga material kayu-kayu besar yang menghancurkan pemukiman. Hal ini mengindikasikan adanya ketidakseimbangan ekosistem dan kerusakan hutan yang parah.
2. Statistik Bencana yang Memilukan
Dampak dari banjir ini disebut oleh sebagian orang sebagai “Tsunami Kedua” karena masifnya kerusakan infrastruktur Berdasarkan data BNPB per Desember 2025:
- Aceh: Menjadi wilayah paling terdampak dengan 138.500 rumah rusak.
- Sumatera Utara: 8.200 rumah rusak.
- Sumatera Barat: 11.200 rumah rusak
Secara total, lebih dari 157.900 rumah rusak dan ratusan fasilitas umum seperti jembatan, sekolah, puskesmas, serta rumah ibadah hancur.
3. Munculnya “Orang Miskin Baru”
Bencana ini melahirkan krisis kemanusiaan baru. Banyak anak menjadi yatim dan keluarga yang kehilangan harta benda seketika menjadi “orang miskin baru” Para pengungsi melaporkan kebutuhan mendesak akan hal-hal dasar seperti:
- Hunian: Tinggal di pengungsian dalam waktu lama sangat tidak layak.
- Kebutuhan Sehari-hari: Kelambu untuk menghindari nyamuk dan kompor untuk memasak air serta makanan hangat.
4. Respons dan Kritik terhadap Pemerintah
Media massa menyoroti beberapa poin penting terkait penanganan bencana ini, di antaranya lemahnya koordinasi pemerintah, narasi pejabat yang saling bertolak belakang, serta munculnya isu “Jawa-sentris” dalam pemberian bantuan Lemahnya eksekusi di lapangan menyebabkan bantuan luar negeri terkadang terhambat oleh masalah birokrasi.
5. Panggilan untuk Beraksi (What to Do)
Sebagai umat Muslim, Ustadz Hendri Tanjung mengingatkan pesan dalam Surah Al-Maun agar kita tidak menjadi pendusta agama dengan mengabaikan anak yatim dan orang miskin.
Beberapa langkah nyata yang telah dan harus terus dilakukan:
- Pembangunan Hunian Sementara (Huntara): Inisiatif komunitas di Bogor telah membangun Huntara dengan fasilitas listrik dan air senilai Rp150 juta per lokasi.
- Perbaikan Fasilitas Ibadah: Terdapat 434 masjid yang rusak, banyak yang terendam lumpur hingga atap.
- Bantuan Sembako dan Dana: Masyarakat diimbau untuk terus menyisihkan rezeki guna meringankan beban saudara-saudara kita yang kehilangan segalanya.
Kesimpulan
Bencana banjir Sumatera adalah ujian syukur bagi kita yang masih hidup dalam kenyamanan. Marilah kita jadikan momentum ini untuk kembali sadar (la’allahum yarjiun), memperbaiki alam yang rusak, dan mengulurkan tangan membantu mereka yang sedang tertimpa musibah.