BOGOR – Assoc. Prof. H. Hendri Tanjung, Ph.D, akademisi dari Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Indonesia, tampil sebagai salah satu pembicara dalam Online Plenary Session yang diselenggarakan bertepatan dengan penyelenggaraan 10th International Conference on Postgraduate Research 2026 (10th ICPR 2026). Acara ini digelar pada Rabu, 2 September 2026, pukul 08.30–10.00 waktu Malaysia, melalui platform Microsoft Teams.
Sesi pleno ini diselenggarakan oleh International Conference on Postgraduate Research (ICPR) bersama Pusat Pengajian Siswazah (Centre for Postgraduate Studies) Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Universitas Ibn Khaldun Bogor, Universiti Islam Sultan Sharif Ali, serta sejumlah institusi mitra lain yang tergabung dalam jaringan Faculty of Islamic Sciences dari kawasan Malaysia, Indonesia, dan Thailand.
Forum ini mengusung tema besar “Human Values and Artificial Intelligence (AI): Shaping Postgraduate Research Excellence”, yang membahas bagaimana nilai-nilai kemanusiaan dan etika keislaman dapat menjadi kerangka dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan pendidikan tinggi dan riset pascasarjana.
Berbicara Bersama Empat Panelis Lintas Negara
Dalam sesi ini, Hendri Tanjung tampil berdampingan dengan empat pembicara dan moderator lainnya, yaitu Assoc. Prof. Dr Moohamad Ropaning Sulong dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Brunei Darussalam; Dr H Arnadi, M.Pd dari Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (UNISSAS), Indonesia; Tuan Mas’udin Syarifuddin dari Institut Pengajian Tinggi Al-Zuhri, Singapura; serta Dr. Siti Haswa Niza Abdullah dari Universiti Islam Selangor, Selangor, Malaysia.
Materi: “Civilized Artificial Intelligence”
Dalam paparannya, Hendri Tanjung membawakan materi bertajuk “Civilized Artificial Intelligence: Blueprint Integration of AI in the Islamic Education Ecosystem”, dengan sub-tema “Bridging Algorithmic Efficiency and Spiritual Depth towards Society 5.0”. Materi ini terinspirasi dari visi Universitas Islam Negeri (Cyber State Islamic University) Syekh Nurjati Cirebon dan wacana mengenai Islamic Artificial Intelligence (IAI).
Ia membuka paparannya dengan menyoroti paradoks kehadiran AI dalam pendidikan Islam, yaitu antara percepatan digital (digital acceleration) di satu sisi dan risiko kekosongan spiritual (spiritual emptiness) di sisi lain. Menurutnya, adopsi masif teknologi pendidikan berbasis AI seperti aplikasi koreksi tajwid otomatis, sistem pembelajaran adaptif, hingga chatbot fatwa instan memang memperluas akses dan efisiensi administratif, namun berisiko menghilangkan dimensi ubudiyah (penghambaan) serta mereduksi hubungan guru-murid yang sakral menjadi sekadar transaksi mekanistis yang kehilangan adab.
Ia mengutip pemikiran cendekiawan Muslim Syed Muhammad Naquib al-Attas, bahwa pendidikan Islam pada hakikatnya adalah proses ta’dib atau pembentukan adab, bukan semata transfer data.
Data Persepsi Mahasiswa: Kepercayaan pada Peran Dosen Tetap Tinggi
Hendri Tanjung turut memaparkan data hasil jajak pendapat terhadap 20 mahasiswa dari berbagai program studi di Ar-Risalah Islamic Institute. Hasilnya menunjukkan 85% responden (17 dari 20) menilai peran dosen sebagai penilai karakter tidak tergantikan oleh mesin; 80% (16 dari 20) menuntut agar desain AI dilakukan bersama para ulama/akademisi agar kontekstual secara keislaman; dan 75% (15 dari 20) meragukan objektivitas AI dalam menilai karakter, karena karakter dinilai bukan sekadar soal ketepatan waktu, melainkan menyangkut niat dan perjuangan batin seseorang.
Temuan utama yang ia garis bawahi adalah bahwa persoalan mendasar bukan terletak pada kegagalan teknis semata, melainkan pada ketidakmampuan AI membaca dimensi batin dan spiritualitas manusia.
Metafora “Gunung Es Karakter” dan Matriks Ontologi
Untuk menjelaskan keterbatasan algoritma, ia menggunakan metafora “gunung es karakter” (character iceberg): hanya sekitar 20% dari karakter seseorang yang dapat diamati secara perilaku dan mudah dikuantifikasi oleh sensor AI (seperti kehadiran digital, klik pada sistem pembelajaran, atau ketepatan pengumpulan tugas), sedangkan 80% sisanya adalah dimensi spiritual niat (niyyah), keikhlasan, dan ketakwaan yang hanya dapat dijangkau melalui pengamatan empatik seorang murabbi atau pembimbing spiritual, bukan sensor algoritmik.
Ia juga memaparkan matriks perbandingan mendasar antara logika algoritmik AI dan pendekatan holistik Islam dalam menilai karakter, mencakup aspek objek penilaian, konteks dan empati, pemahaman niat, sifat indikator, hingga hasil akhir penilaian di mana pendekatan Islam menekankan keadilan (al-‘adl) yang menuntut penilaian kontekstual, bukan sekadar akurasi prosedural mesin.
Maqashid Syariah sebagai Filter Etika Algoritma
Salah satu poin penting dalam presentasinya adalah usulan agar lima tujuan pokok syariat Islam (maqashid syariah) dioperasionalkan sebagai metrik evaluasi teknologi modern, yaitu: Hifz al-Din (menjaga agama) untuk melindungi kesucian teks dari manipulasi doktrin buatan mesin; Hifz al-Nafs (menjaga jiwa) untuk mencegah bias algoritmik pada sistem keamanan atau medis; Hifz al-‘Aql (menjaga akal) untuk melindungi nalar manusia dari misinformasi dan filter bubble; Hifz al-Nasl (menjaga keturunan) untuk melindungi privasi data keluarga dan masyarakat; serta Hifz al-Mal (menjaga harta) untuk mencegah gharar dan penipuan algoritmik dalam fintek syariah.
Kerangka “Roda Humanisme Etis”
Sebagai sintesis, ia mengajukan kerangka yang disebutnya “The Ethical Humanism Wheel”, yang menempatkan maqashid syariah sebagai inti, dikelilingi empat prinsip evaluasi: ‘Adl (keadilan) apakah algoritma menghapus penindasan dan bias sistemik; Karamah (martabat) apakah teknologi melindungi nilai kemanusiaan sebagai sebaik-baik ciptaan; Rahmah (kasih sayang) apakah penerapannya berlandaskan empati dan tanggung jawab; serta Hurriyyah (kebebasan) apakah teknologi melindungi otonomi moral manusia dari dikte mesin. Menurutnya, kelayakan AI tidak lagi cukup dinilai dengan pendekatan prosedural biner halal-haram semata, melainkan harus dinilai dari dampak substantifnya terhadap kemanusiaan.
Etika Terapan: Bias Algoritma, Keadilan Gender, hingga Lingkungan
Hendri Tanjung juga mengaitkan pendekatan fikih transformatif dengan isu-isu kemanusiaan global, di antaranya bias algoritmik yang kerap mereplikasi ketidakadilan data historis sehingga menuntut transparansi dan keadilan (‘adl) dalam pengambilan keputusan otomatis; keadilan gender melalui interpretasi fikih yang menjaga kesetaraan dan martabat (karamah) perempuan dari bias sistemik dalam data pelatihan AI; serta etika ekologi, dengan memandang alam sebagai amanah yang harus dijaga dari eksploitasi komputasi massal dan jejak karbon AI, agar keseimbangan (mizan) ekosistem global tetap terjaga.
Rekomendasi untuk Perguruan Tinggi Islam
Di bagian penutup, ia menyampaikan peta jalan institusional bagi perguruan tinggi Islam dan pembuat kebijakan, dengan tiga rekomendasi utama:
Redesain kurikulum literasi AI perlu diintegrasikan ke dalam mata kuliah fikih, dengan membekali mahasiswa instrumen tabayyun untuk menganalisis bias doktrinal dari mesin.
Tata kelola human-in-the-loop setiap interpretasi atau fatwa yang dihasilkan AI wajib melalui verifikasi silang oleh ulama/mufti sebelum dipublikasikan.
Augmentasi, bukan penggantian teknologi AI diposisikan semata untuk memperluas kapasitas riset, sementara hubungan guru-murid (ta’dib) tetap dijaga sebagai pusat pendidikan spiritual.
Ia menegaskan bahwa tradisi intelektual Islam bukanlah anti-teknologi, namun secara tegas menolak teknologi yang mereduksi manusia sekadar menjadi titik data. Kecerdasan buatan, menurutnya, harus tunduk pada kebijaksanaan manusia, mencerahkan akal, dan selaras dengan nilai-nilai ilahiah demi kemaslahatan semesta. Ia menutup paparannya dengan menyatakan bahwa masa depan fikih tidak terletak pada mempertahankan aturan yang kaku, melainkan pada kemampuannya menjaga nyala martabat manusia di tengah pusaran algoritma.
Tentang Acara
Acara
Online Plenary Session 10th International Conference on Postgraduate Research (10th ICPR 2026)
Tema
Human Values and Artificial Intelligence (AI): Shaping Postgraduate Research Excellence
Tanggal
2 September 2026
Waktu
08.30–10.00 (Waktu Malaysia)
Medium
Microsoft Teams
Penyelenggara
ICPR, Pusat Pengajian Siswazah UNISSA, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan jaringan Faculty of Islamic Sciences mitra
Pembicara & Moderator
Assoc. Prof. H. Hendri Tanjung, Ph.D (UIKA Bogor, Indonesia); Assoc. Prof. Dr Moohamad Ropaning Sulong (UNISSA, Brunei); Dr H Arnadi, M.Pd (UNISSAS, Indonesia); Tuan Mas’udin Syarifuddin (Institut Pengajian Tinggi Al-Zuhri, Singapura); Dr. Siti Haswa Niza Abdullah (Universiti Islam Selangor, Malaysia)