Skip to content

Belajar Dari Ust. Hendri Tanjung Untuk Meletakkan Harta Di Tangan, Bukan Di Hati

Klikbmi, Tangerang –  Sahabat BMI Kliker yang dimuliakan Allah SWT, tema kita kali ini adalah nasehat dari Ketua Pengawas Koperasi BMI, Ust H Hendri Tanjung, Ph.D untuk meletakkan harta di tangan, bukan di hati. Menurut Beliau setidaknya dalam Al Quran ada sekitar 39 ayat yang menjelaskan tentang infaq dan sedekah diantaranya 15 ayat dalam Surah Al Baqarah, 3 ayat dalam Surah Ali Imran, 4 ayat di Quran Surah At Taubah, dan sisanya termaktub dalam berbagai surah lainnya dalam Al Quran. Dari 39 ayat tersebut, memang tidak ada yang secara eksplisit menyebutkan bahwa orang kaya adalah orang banyak sedekahnya, tetapi secara implisit ada. Misalnya Al Baqarah (2) : 267. Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azharnya mengatakan begini: “Diujung ayat, Allah menyebut 2 sifatnya: pertama kaya, kedua terpuji.  Dengan mengingat kekayaan-Nya, kamu disuruh ingat bahwa belum berarti apa-apa.  Dengan menyebut sifatnya Terpuji, Allah seakan-akan menganjurkan supaya si makhluq mengambil sifat-sifat Allah mana yang dapat diambilnya, seperti kata-kata Ahli Sufi : Berakhlaklah dengan akhlaq Allah (Takhollaqu bi akhlaaqillahi)

Dari tafsir tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa Allah yang maha Kaya, memberikan semuanya (hewan, tanaman, dan hasil bumi) untuk manusia.  Sehingga orang kaya adalah orang yang paling banyak memberi. 

Dalam haditsnya, Rasulullah tegas mengatakan bahwa harta kita sesungguhnya adalah harta yang kita infaqkan. Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim ). Hadits riwayat Muslim diatas sangat jelas menyatakan bahwa harta yang sebenarnya adalah sedekahnya.   Sehingga semakin banyak sedekahnya, semakin banyaklah hartanya, atau semakin kayalah dia di sisi Allah SWT.

Alhamdulillah di Koperasi BMI, sedekah sudah menjadi budaya kita, salah satunya karena tauladan dari seluruh pengurusnya juga khususnya Pak KamaBara yang begitu bersemangat melakukan dakwah muamalah selama ini. Dan kita juga dari jajaran pengawas baik dari operasional maupun syariah senantiasa berusaha memberikan contoh yang baik untuk selalu bersedekah.

H Hendri Tanjung, mengatakan bahwa menyedekahkan harta yang dicintai. Ali Imran (3) : 92. “Kamu sekali-kali tidak akan sampai mencapai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. Sedekah yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Al-Baqarah (2) : 271. “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Sedekah yang dilakukan mencari keridoan Allah (Ikhlas). Al Baqarah (2) : 272. “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Ust Hendri menjelaskan tentang apa saja sebenarnya keuntungan dari sedekah itu. Pertama, mendapatkan syurga. Ar-Ra’d (13) :22. “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridloan Tuhannya, mendirikan solat dan menginfakkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terang serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang mulia)”. Kedua, Allah akan mengganti sedekah kita. Q.S. Saba’ (34) : 39. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” Ketiga, Allah akan membalas sedekah kita. Al-Anfaal (8) : 60. “Apa saja yang kamu infakkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”.

At-Taubah (9) : 121. “Dan mereka tiada menginfakkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan ditulis bagi mereka (amal soleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” Keempat, Orang yang bersedekah adalah orang yang beruntung. At-Taghobun (64): 16. “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah, dan infakkanlah nafkah yang baik-baik untuk dirimu. Barangsiapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Terkait Kapan saat utama untuk bersedekah, dan apa kegunaan yang paling utama dalam pandangan agama Islam. Di saat kita dalam keadaan sempit, karena Allah akan melapangkan setelah kesempitan itu.At-Thalaaq (65) : 7. “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

Kegunaan yang paling utama berinfaq adalah kepada:

  1. Orang tua
  2. Kaum kerabat
  3. Anak anak yatim
  4. Orang orang miskin
  5. Orang-orang yang dalam perjalanan.

Al Baqarah (2) : 215. “Mereka bertanya kepada engkau tentang apa yang mereka infakkan, Jawablah! Apa saja harta yang kamu infakkan hendaklah diberikan kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa sahaja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”.

Selanjutnya Allah memerintahkan kita bersedekah saat lapang dan sempit. Agar Allah memberikan kelapangan setelah kesempitan. At-Thalaaq (65) : 7.” Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

Lalu apakah hukumnya orang yang tidak pernah bersedekah. Allah sangat mencelanya, bahkan Allah ancam dengan menggantikan mereka yang kikir dengan kaum yang lebih baik. Lihat Al Quran surat Muhammad (47) : 38. “Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah! Maka di antara kamu ada orang yang kikir dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanya kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang fakir (memerlukanNya), dan jika kamu berpaling nescaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu”.

Bagaimana caranya agar kita mudah bersedekah. Kita pahami bahwa harta kita hanya merupakan titipan, yang namanya titipan, pasti diambil kembali oleh pemiliknya.  Oleh karena itu, orang yang merasa harta itu adalah titipan, maka dia dengan mudah mengeluarkan hartanya untuk kebaikan.  Allah maha kaya, menguasai langit dan bumi. Perhatikan,  “Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian hartamu yang Allah telah menjadikanmu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antaramu dan menafkahkan sebagian hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid: 7). Al-Hadid (57) : 10. “Dan mengapa kamu tidak menginfakkan (sebahagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama antara kamu orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekkah). Mereka lebih tinggi menginfakkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Nasehat Dhuha Jumat, 2 Juli 2021 | 22 Dzulka’dah 1442 H| Oleh: Sularto

Sumber : klikBMI.com

Categories

Liputan

Hendri Tanjung View All

Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: