Skip to content

Menyusuri Bangunan Wakaf dan Rumah Sakit Murah di Pakistan

Di sebuah bilangan Chauburji Park, Lahore, berdiri sebuah rumah sakit wakaf bernama Ishaq Haroon Hospital, warga miskin bisa memanfaatkannya

Hidayatullah | Kesadaran terhadap besarnya potensi wakaf masih belum dimiliki oleh masyarakat di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Hal itu diungkapkan oleh salah satu anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI), Dr. Hendri Tanjung saat bertemu koresponden Hidayatullah di Islamabad saat menemani perjalanannya.

Salah satu tujuan kunjungan Hendri Tanjung ke Pakistan adalah untuk bertemu dengan Evacuee Trust Property Board (ETPB), sebuah Lembaga Wakaf pemerintah seperti halnya BWI di Indonesia. Berikut catatan perjalanannya. Lahore merupakan salah satu kota yang berada di Pakistan, jaraknya sekitar 375 kilometer dari Ibukota Pakistan, Islamabad. Lahore sendiri merupakan Ibukota dari Provinsi Punjab. Luas wilayah 684 mil2 dengan jumlah penduduk sekitar 11,13 juta jiwa (data diambil dari PBB tahun 2017), membuat Lahore terkenal dengan daerah yang sangat padat penduduknya.

Di sebuah bilangan Chauburji Park, Lahore, berdiri sebuah rumah sakit wakaf bernama Ishaq Haroon Hospital. Rumah sakit tersebut merupakan wakaf dari seorang konglomerat bernama Ishaq Haroon. Setelah ia wafat, ia mewakafkan bangunan yang sebelumnya merupakan rumah untuk dijadikan sebuah rumah sakit.

“Dulunya ini adalah rumah, kemudian ia (Ishaq Haroon) menginginkan untuk memberikan wakaf dengan bentuk rumah sakit,” kata salah seorang dokter di kantor rumah sakit tersebut saat kami melakukan kunjungan pada Kamis (20/06/2019) lalu.

Tidak terlihat megah, bangunan yang didominasi oleh batu bata berwarna coklat itu lebih terlihat seperti rumah. Tidak ada plang besar, hanya ada papan nama kecil yang ditempel di tembok depan rumah sakit tersebut.
Uniknya, rumah sakit tersebut tidak membedakan antara pasien miskin dan kaya. Bahkan, terangnya, rumah sakit juga tidak membedakan dalam hal tarif pembayaran ataupun pelayanan.

“Untuk periksa dan berobat biasa kami kenakan tarif 40 Rupees (sekitar 4.000 Rupiah), sedangkan untuk spesialis dokter kami kenakan 100 Rupees (sekitar 10.000 Rupiah),” sebutnya.

Dana yang didapatkan rumah sakit tersebut bersumber dari para donatur tetap yang berasal dari berbagai Negara. Dana tersebut yang digunakan dalam bentuk operasional rumah sakit dan keperluan lainnya.

“Ini nama-nama donatur kami yang kami catat lengkap dengan alamat dan nomor teleponnya,” paparnya sambil menunjukkan sebuah buku panduan.

Bahkan, katanya, pihak rumah sakit juga memberikan gaji kepada para dokter dengan standar nominal gaji dokter pada umumnya di Pakistan.

Sekiar 200 meter dari Ishaq Haroon Hospital, berdiri juga rumah sakit dengan status bangunan wakaf bernama Surayya Azeem Trust Hospital. Letaknya tepat bersebrangan dengan Monumen Chauburji, sebuah monumen yang dibangun pada era kerajaan Mughal.

Sedikit berbeda dengan Ishaq Haroon Hospital, Surayya Azeem Trust Hospital berdiri megah dengan bangunan yang terdiri dari 4 lantai. Sebelumnya, rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit swasta yang dimiliki seorang wanita bernama Surayya Azeem. Sebelum ia wafat, rumah sakit tersebut diwakafkan kepada Jama’at Islami (JI).

Tidak jauh berbeda dengan Ishaq Haroon Hospital, rumah sakit ini juga tidak membedakan antara pasien dari kalangan miskin ataupun kaya. Seluruh pasien yang datang berobat akan mendapatkan pelayanan yang sama dengan biaya yang relatif murah.

“Kami tidak mematok harga berbeda antara mereka yang kaya dan miskin. Untuk berobat atau periksa mereka (pasien) cukup membayar 50 Rupees (sekitar 5.000 Rupiah), dan untuk layanan dokter spesialis cukup membayar 100 Rupees,” jelas Waqas, bagian marketing rumah sakit tersebut.

Hanya saja, lanjutnya, rumah sakit menyediakan kotak amal bagi yang berniat untuk berinfaq dan bersedekah. Rumah sakit tersebut juga melakukan pembangunan setiap tahunnya.

“Tahun ini kami akan menyelesaikan pembanguan dan kami akan membuka pelayanan cuci darah,” terang Waqas sambil menunjukkan bangunan yang masih dalam proses pembangunan.

Sedikit berbeda dengan Ishaq Haroon Hospital, Surayya Azeem Trust Hospital berdiri megah dengan bangunan yang terdiri dari 4 lantai. Sebelumnya, rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit swasta yang dimiliki seorang wanita bernama Surayya Azeem. Sebelum ia wafat, rumah sakit tersebut diwakafkan kepada Jama’at Islami (JI).

Tidak jauh berbeda dengan Ishaq Haroon Hospital, rumah sakit ini juga tidak membedakan antara pasien dari kalangan miskin ataupun kaya. Seluruh pasien yang datang berobat akan mendapatkan pelayanan yang sama dengan biaya yang relatif murah.

“Kami tidak mematok harga berbeda antara mereka yang kaya dan miskin. Untuk berobat atau periksa mereka (pasien) cukup membayar 50 Rupees (sekitar 5.000 Rupiah), dan untuk layanan dokter spesialis cukup membayar 100 Rupees,” jelas Waqas, bagian marketing rumah sakit tersebut.

Hanya saja, lanjutnya, rumah sakit menyediakan kotak amal bagi yang berniat untuk berinfaq dan bersedekah. Rumah sakit tersebut juga melakukan pembangunan setiap tahunnya.

“Tahun ini kami akan menyelesaikan pembanguan dan kami akan membuka pelayanan cuci darah,” terang Waqas sambil menunjukkan bangunan yang masih dalam proses pembangunan.

Singkatnya, orang-orang Hindu yang ingin datang ke kuil-kuil tersebut akan diakomodir dan difasilitasi oleh ETPB tersebut.

“Ya kalau mereka akan mengadakan acara di sana, memperingati hari-hari mereka kami sediakan transportasi dan semacamnya kepada mereka,” pungkasnya.

Uniknya, ETPB ternyata tidak mengetahui sistem wakaf yang dikelola oleh umat Islam, seperti Ishaq Haroon Hospital dan Surayya Azeem Hospital.

“Kami tidak memonitoring mereka, dan mereka bukan berada dibawah pengawasan kami (ETPB),” tukas Aamer.

Berbeda dengan BWI yang secara khusus mengawasi asset wakaf yang mayoritas dikelola oleh kaum muslim. Menanggapi hal itu, Dr. Hendri Tanjung menyatakan bahwa hal tersebut bukan sesuatu keharusan.

”Menurut saya tidak perlu, karena sejarahnya berbeda. Jadi kalau kita mau melihat apa fungsi dari sebuah organisasi lihat untuk apa tujuan organisasi ini didirikan. Apa latar belakangnya. ETPB ini kan didirikan untuk mengurus harta-harta yang ditingglakan,” terangnya.

Potensi Wakaf di Pakistan

Banyaknya permasalahan ekonomi yang berada di Negri Ali Jinnah ini, Hendri menyatakan bahwa hal itu bisa diselesaikan dengan wakaf. Potensi wakaf yang berada di Pakistan disebut Hendri mempunyai peluang yang sangat besar.

“Besar sekali, saya yakin bisa, karena di Pakistan ini banyak tuan tanah. Kalau mereka berwakaf selesai itu masalah di Pakistan,” ungkap pria kelahiran Pematang Siantar ini.

Namun, katanya, Indonesia mempunyai potensi wakaf yang lebih besar daripada Pakistan. Karena karakter masyarakat Indonesia yang terkenal mudah tersentuh hatinya dan suka menolong.

“Mereka (masyarakat Indonesia) ingin menolong orang lain itu cepet tersentuh. Misalnya kita sudah ada banyak kasus Palestina langsung nyumbang. Itu adalah potensi yang sangat besar,” tuturnya.

Selain itu, Hendri juga menyatakan bahwa perbedaan jumlah luas lahan yang dimiliki turut mempengaruhi.

“Dan juga kita lihat dengan luasnya tanah wakaf yang seluas itu. Tapi kalo disini kan yang mereka kelola Cuma 100.000 hektar kita kan hamper 500.000 hektar, hampir 5 kali lipatnya. Meskipun yang di sini bukan muslim, banyak juga yang kuil dan macam-macam,” tambah Wakil Direktur Program Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, ini.

Oleh sebab itu, Hendri mengungkapkan bahwa Indonesia harus sadar tentang potensi besar yang dimiliki. Wakaf di Indonesia bisa dikembangkan dan dikolaborasikan dengan bagian-bagian lain.
“Wakaf bisa dikawinkan dengan bank, zakat, asuransi dan masih banyak lagi. Bahkan dengan haji wakaf bisa dikembangkan di situ,” sebutnya.

Wakaf dinilai bisa menjadi pusat perkembangan ekonomi di Indonesia. Wakaf juga disebut mampu menjadi jantung perekonomian di Indonesia. Selain keuntungan dunia, Hendri menyebut bahwa wakaf juga memiliki keuntungan akhirat yang berguna bagi umat Islam.

“Wakaf ini untungnya dunia akhirat. Kalau dunia wakaf kita bisa digunakan anak cucu kita sampai kiamat. Jadi hidup kita yang 60 tahun tapi sebetulnya hidup kita ribuan tahun karena orang masih menggunakan harta kita. Pahala akhiratnya umur kita panjang, dikenang,” tegas Hendri.*/ Ali Muhtadin

Rep: Ahmad
Editor: –

Sumber : Hidayatullah

Categories

Liputan

Hendri Tanjung View All

Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: