BOGOR, MASJID ALUMNI IPB – Menjelang pergantian tahun baru Islam dari 1447 Hijriyah ke 1448 Hijriyah, Ustadz H. Hendri Tanjung, MM., M.Ag., Ph.D. menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya melakukan evaluasi total (muhasabah), khususnya dalam ruang lingkup keluarga. Pesan bernilai spiritual tersebut disampaikannya saat bertindak sebagai khatib dalam ibadah salat Jumat di Masjid Alumni IPB, Kota Bogor, pada Jumat (29/05/2026).

Dalam khutbahnya yang mengangkat tema “Muhasabah Akhir Tahun Hijriyah”, Ustadz Hendri Tanjung mengingatkan umat Muslim agar tidak menjadi golongan orang yang rugi akibat melewatkan momentum pergantian tahun tanpa adanya perbaikan kualitas diri.

“Pergantian tahun harus membawa kita ke arah yang lebih baik. Alangkah rugi apabila orang yang berganti tahun justru mengalami hal yang lebih buruk. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi, introspeksi, dan muhasabah terhadap amalan-amalan kita,” ujar beliau di hadapan ratusan jemaah Jumat.

Secara spesifik, beliau memfokuskan bahasannya pada entitas organisasi terkecil namun paling krusial di masyarakat, yaitu keluarga Islami atau Al-Usrah Muslimah. Menurutnya, setidaknya ada tiga pilar utama yang wajib dievaluasi oleh setiap pasangan suami istri di akhir tahun ini:

1. Pilar Sakinah (Ketenangan Batin)

Rumah tangga sejatinya dibangun untuk menciptakan ketenteraman. Beliau menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan efektif agar rumah tidak terasa asing atau justru menegangkan seperti “neraka”. Suami istri harus berani saling mengomunikasikan hal-hal yang mengganjal demi memperbaiki suasana rumah, sehingga rumah bisa menjadi tempat bernaung yang menyejukkan setelah lelah beraktivitas di luar.

2. Mitra Spiritual (Mitra Ibadah)

Pilar kedua adalah menjadikan pasangan sebagai teman dalam meningkatkan ketakwaan. Menikah merupakan penyempurna separuh agama. Oleh karena itu, akhir tahun menjadi momentum yang tepat untuk mengevaluasi apakah suami istri telah saling mendukung dalam beribadah, seperti saling membangunkan untuk salat malam, saling mengingatkan bersedekah, serta mempererat tali silaturahmi ke kerabat.

3. Prinsip Ta’awun dan Filosofi Pakaian

Merujuk pada Al-Qur’an bahwa suami istri adalah pakaian bagi satu sama lain, Ustadz Hendri Tanjung menyoroti fenomena miris di media sosial saat ini, di mana aib rumah tangga kerap diumbar secara bebas ke publik. Beliau menegaskan bahwa esensi dari pakaian adalah menutupi kekurangan dan menjaga kehormatan pasangan, bukan menyebarkannya.

Program “Pesantren Senior Citizen”: Ikhtiar Menua Bersama Ketaatan

Lebih lanjut pada khutbah kedua, Ustadz Hendri Tanjung membagikan sebuah langkah konkret yang telah diupayakannya sejak dua tahun lalu, yakni mendirikan Pesantren Senior Citizen.

Program ini dilatarbelakangi oleh keresahan beliau agar pasangan yang sudah puluhan tahun menikah dapat terus belajar agama bersama-sama hingga usia senja, sehingga tidak terjadi kepincangan pemahaman spiritual di dalam rumah tangga. Pesantren yang mengajarkan ilmu fikih, tafsir Al-Qur’an, akidah, hingga pola hidup sehat ala Rasulullah SAW ini mengalami perkembangan pesat, dari yang awalnya memiliki 40 santri di tahun pertama kini melonjak menjadi 156 santri yang belajar melalui metode hibrida (online dan offline).

Melalui momentum muhasabah akhir tahun Hijriyah ini, Ustadz Hendri Tanjung berharap umat Muslim dapat menata kembali biduk rumah tangganya agar dapat menua bersama dalam ketakwaan dan meraih akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *