JAKARTA – Menjelang tibanya hari raya Idul Adha 1447 Hijriah, Masjid As-Syamil yang berlokasi di Lantai P1 Sampoerna Strategic Square menyelenggarakan ibadah salat Jumat khidmat pada 22 Mei 2026. Bertindak sebagai khatib, Ustadz H. Hendri Tanjung, MM, M.Ag, Ph.D, menyampaikan pesan menyentuh mengenai pentingnya rasa syukur melalui dua ibadah utama: salat dan ibadah kurban.
Dalam rangkaian ibadah Jumat ini, bertindak pula sebagai MC adalah M. Siddiq (Manulife), Qory oleh Hadi (Pertamina EP), penerjemah Rio Budi (Manulife), serta Bilal yang dikomandoi oleh Adhar Irawan (SPI).
Makna Syukur dalam Surah Al-Kautsar
Mengawali khotbahnya, Ustadz Hendri Tanjung mengutip ayat pendek namun sarat makna dari Surah Al-Kautsar. Beliau mengingatkan jemaah bahwa Allah SWT telah melimpahkan nikmat yang tak terhitung jumlahnya, mulai dari nikmat iman, islam, kesehatan, hingga nikmat anggota tubuh seperti penglihatan dan pendengaran.
“Seandainya kita menghitung nikmat Allah, kita tidak akan pernah mampu. Dan dari sekian banyak nikmat itu, Allah hanya meminta dua hal sebagai wujud tanda terima kasih atau syukur kita: salat dan berkurban,” ujar beliau di atas mimbar.
Beliau mengimbau agar jemaah tidak terburu-buru pulang selepas salat Jumat, melainkan meluangkan waktu sejenak untuk berzikir, berdoa, dan menunaikan salat sunah rawatib. Menurutnya, memperbanyak salat sunah merupakan salah satu cara efektif untuk menambal kekurangan atau ketidaksempurnaan dalam salat wajib kita sehari-hari.
Anjuran Berkurban dan Menyembelih Sendiri
Lebih lanjut, Ustadz Hendri Tanjung memaparkan pentingnya ibadah kurban. Mengambil perspektif fikih, beliau menceritakan pengalamannya saat menuntut ilmu selama 7 tahun di negara yang mayoritas menganut Mazhab Hanafi, di mana ibadah kurban dipandang sebagai suatu kewajiban bagi yang mampu dan setiap rumah terbiasa memotong hewan kurbannya sendiri.
Merujuk pada hal tersebut, beliau memotivasi jemaah yang memiliki kelapangan rezeki tahun ini untuk berani menyembelih hewan kurbannya sendiri. “Belajarlah untuk berani dan pelajari tekniknya. Ketika kita menyembelih sendiri, doa-doa tulus kita dan keluarga bisa langsung dipanjatkan secara khusus kepada Allah saat aliran darah hewan tersebut mengalir,” jelas beliau. Bagi jemaah yang belum mendaftar ibadah haji, beliau juga mendoakan dan memotivasi untuk segera mendaftarkan diri tanpa perlu cemas akan masa tunggu yang lama.
Keutamaan Puasa dan Doa di Hari Arafah

Pada khotbah kedua, Ustadz Hendri Tanjung mengingatkan jemaah mengenai momentum penting Puasa Sunah Arafah (9 Zulhijah 1447 H) yang jatuh pada hari Selasa, 26 Mei 2026
Beliau menekankan bahwa waktu bakda Asar hingga menjelang berbuka puasa pada hari tersebut merupakan waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Pasalnya, pada saat yang bersamaan, jutaan jemaah haji di tanah suci sedang melaksanakan wukuf di Padang Arafah dengan penuh kekhusyukan dan derai air mata.
“Mari kita manfaatkan hari Selasa nanti untuk berpuasa Arafah. Saat sore hari menjelang magrib, mari kita programkan doa bersama-baik di masjid maupun mandiri-untuk mendoakan kebaikan keluarga kita, masyarakat, hingga bangsa dan negara agar selalu dijaga oleh Allah SWT,” pungkasnya sebelum menutup khotbah dengan doa bersama