Pusat Studi Islamisasi Sains Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor kembali menggelar Kuliah Islamisasi Sains bertajuk “Bedah Kitab-Kitab Islamisasi Sains”. Sesi perdana dari rangkaian lima sesi yang digelar setiap Senin malam ini berlangsung pada Senin, 3 Agustus 2026, pukul 19.30–21.00 WIB, secara daring (online) melalui kelas virtual dan diikuti oleh sekitar 130 peserta.Pada sesi pertama ini, Assoc. Prof. Dr. Hendri Tanjung, MM., M.Ag. tampil sebagai pemateri dengan membedah buku “Islamic Economics, The Polar Opposite of Capitalist Economics” karya Asad Zaman. Jalannya diskusi dipandu oleh Dr. Wido Supraha, S.T., M.Si., selaku Ketua Pusat Studi Islamisasi Sains SPS-UIKA Bogor, yang bertindak sebagai moderator.

Dalam paparannya, Hendri Tanjung mengangkat tema “Ekonomi Islam: Antitesis Ekonomi Kapitalis”. Ia menjelaskan akar sejarah ekonomi Islam, mulai dari kemunculannya di era pascapenjajahan, perkembangannya di negara-negara mayoritas maupun minoritas Muslim, hingga bagaimana ekonomi Islam hadir sebagai jawaban atas kebutuhan umat Islam di era modern. Ia mengawali pemaparan dengan mengutip firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 111 tentang konsep “berbisnis dengan Allah”, yang menjadi landasan filosofis ekonomi Islam.Lebih lanjut, Hendri Tanjung memaparkan perbandingan mendasar antara ekonomi Islam dan ekonomi kapitalis. Menurutnya, sistem Islam dibangun untuk meningkatkan kebersamaan dan kerja sama antaranggota masyarakat serta memprioritaskan kepentingan komunitas di atas kekayaan materi, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 103 dan QS. Al-Anfal ayat 62–63. Ekonomi dalam pandangan Islam merupakan alat untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, berbeda dengan ekonomi kapitalis yang menempatkan ekonomi sebagai tujuan itu sendiri dan berlandaskan sistem individualistis yang kompetitif.Materi juga menyinggung sejarah kelahiran ekonomi Islam modern yang dapat ditelusuri sejak awal abad ke-20, dengan menyebut kontribusi besar dua tokoh, yaitu Muhammad Baqir al-Sadr melalui karyanya “Our Economy” (1961) dan Sayyid Abu ‘l-A’la Maududi melalui “Economic System of Islam”.

Selain itu, dipaparkan pula faktor-faktor yang mendorong kebutuhan akan pemikiran ekonomi Islam pada dekade 1970-an, seperti kemunculan OPEC serta penyitaan aset Iran senilai 8 miliar dolar AS oleh Amerika Serikat pada 1979, yang mendorong umat Islam mencari alternatif sistem keuangan di luar Barat.Di akhir paparan, Hendri Tanjung menegaskan bahwa dalam perspektif yang lebih luas, ekonomi Islam merupakan bagian dari proyek besar Islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana digagas oleh Al-Attas dan Al-Faruqi, yang salah satu wujud konkretnya adalah berdirinya universitas-universitas Islam internasional yang secara eksplisit mengusung tujuan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *