BOGOR Pengasuh Sekolah Pranikah Bumi Ta’aruf Al-I’tisham dan Direktur sekolah pascasarjana UIKA Bogor, H. Hendri Tanjung, Ph.D, yang akrab disapa Buya Hendri, membawakan materi pembuka pada hari perdana Angkatan ke-2 di Masjid Al-I’tisham, Budi Agung, Kota Bogor, Minggu (8/11/2026). Sampai kegiatan dimulai, 37 orang sudah mendaftar. Pendaftaran masih dibuka hingga 14 November 2026.

Buya Hendri memilih tema yang langsung menyentuh keresahan banyak calon peserta hari ini: “Cetak Biru Kesiapan Menikah”. Judul turunannya lebih tegas, yakni transformasi cara pandang pra-nikah dari ketakutan (gamophobia) menuju keluarga tangguh yang dibangun di atas psikologi dan maqashid syariah.

Dua angka yang saling bertolak belakang

Paparan dibuka dengan sebuah paradoks. Di satu sisi, 27 dari 100 pernikahan berujung cerai, totalnya 1,47 juta kasus. Di sisi lain, angka pernikahan nasional turun 28,63%. Menurut Buya, dua data itu saling menjelaskan. Generasi muda melihat perceraian di sekitarnya, lalu memilih menjauh dari pernikahan. Dari sinilah gamophobia tumbuh: ketakutan berlebihan terhadap komitmen akibat trauma perceraian orang tua dan tekanan ekspektasi sosial.

Ia lalu mengajak peserta menengok akar masalah, bukan hanya gejalanya. Perceraian dini, komunikasi yang macet, konflik keuangan, dan kekerasan hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya ada ta’aruf yang dangkal, minimnya kemampuan mengelola emosi, tekanan ekonomi dan usia, serta pergaulan bebas. Buya mencontohkan kasus pasangan yang gagal karena hanya bertemu dua kali sebelum menikah, tanpa pendalaman emosional. Ia juga menyebut 40% kasus nikah dini di Cikidang terjadi akibat kehamilan pranikah.

Ta’aruf yang tidak berhenti di legalitas

Dari situ Buya menawarkan pergeseran dari ta’aruf superfisial ke ta’aruf kontekstual dan syar’i. Ta’aruf yang lama hanya berfokus pada kehalalan dan menghindari zina. Ta’aruf yang ia dorong menilai kualitas interaksi, kesiapan mental, dan keselarasan visi, dengan kuesioner psikologis dan simulasi pemecahan masalah yang didampingi fasilitator atau konselor. Maqashid syariahnya pun diperluas, tidak hanya menjaga agama, tetapi juga menjaga jiwa (hifzh al-nafs) dan akal (hifzh al-‘aql).

Soal gamophobia, Buya menjelaskannya lewat timbangan fikih mazhab Syafi’i. Jika memaksakan pernikahan justru mendatangkan madharat bagi diri atau pasangan, hukum menikah dapat menjadi makruh bahkan haram, dengan kaidah al-dharar yuzal. Jika trauma masih bisa diatasi, hukum asalnya wajib atau sunnah, dan solusinya adalah intervensi psikologis serta bimbingan pranikah yang intensif.

Lima aspek kesiapan menikah

Peserta juga dikenalkan kerangka diagnostik yang disusun dari teori psikologi Blood dan Duvall. Kesiapan menikah dibaca dari lima aspek:

  • spiritual, yaitu visi ibadah jangka panjang dan pemahaman agama yang esensial;
  • psikologis dan emosi, yaitu regulasi diri, empati, dan kemampuan menyelesaikan konflik;
  • finansial dan usia, yaitu kemandirian ekonomi dasar dan kematangan biologis;
  • sosial, yaitu kemampuan beradaptasi dengan keluarga baru;
  • peran, yaitu kesiapan memikul tanggung jawab sebagai suami, istri, dan orang tua.

Paparan ditutup dengan kesimpulan bahwa pernikahan yang tangguh bukan kebetulan, melainkan hasil konstruksi yang direncanakan. Pesan penutupnya: “Jangan bertaruh pada masa depan. Bangun cetak biru pernikahanmu dengan ilmu, kesiapan psikologis, dan bimbingan profesional.”

Tiga bulan, dua belas pertemuan

Angkatan ke-2 berlangsung selama tiga bulan dalam 12 pertemuan, bisa diikuti secara offline maupun online. Kelas dijalankan dengan konsep mabit atau bermalam di Masjid Al-I’tisham, setiap malam Minggu mulai pukul 18.30 hingga selesai. Selain Buya Hendri sebagai pengasuh, peserta dibimbing Ustadz Fata Fauzi, Lc, ME dan Ummi Ghazaa. Keduanya juga menyusun kurikulum yang mencakup niat menikah, kriteria pasangan menurut syariat, fikih pernikahan, hak dan kewajiban suami istri, komunikasi, manajemen konflik dan keuangan, hingga fikih perceraian.

Peserta mendapat mediator ta’aruf syar’iyah, mentor, materi pranikah, sertifikat, konseling, tempat mabit yang nyaman, serta coffee break.

Pendaftaran ditutup 14 November 2026. Calon peserta dapat menghubungi narahubung di WhatsApp 085860579514.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *