TANGERANG – Masjid Raudhatul Hakim, Tangerang, menjadi saksi peringatan Nuzulul Qur’an yang khidmat pada Jumat malam, 6 Maret 2026. Acara ini menghadirkan penceramah terkemuka sekaligus pakar ekonomi syariah, Buya H. Hendri Tanjung, Ph.D., yang menyampaikan tausiyah mendalam dengan tema: “Jadikan Al-Qur’an sebagai Sahabat.”
Dalam ceramahnya, Buya Hendri menekankan bahwa makna “sahabat” jauh lebih dalam daripada sekadar teman biasa. Sahabat adalah sosok yang setia menemani, tempat mencurahkan hati, dan selalu ada baik dalam keadaan senang maupun susah.
Al-Qur’an sebagai Pedoman dan “Manual Book”
Buya mengibaratkan Al-Qur’an sebagai buku petunjuk (manual book) bagi manusia. Sebagaimana setiap produk elektronik memiliki panduan agar tidak rusak, manusia yang diciptakan Allah pun membutuhkan Al-Qur’an sebagai pedoman agar hidupnya terarah.
“Hidup kita tidak pernah lepas dari masalah. Jika ada masalah, kembalilah kepada Al-Qur’an. Ia bukan hanya petunjuk, tapi juga penjelas (bayyinat) atas segala persoalan hidup kita,” tegas beliau di hadapan para jemaah.
Hakikat Kehidupan: Pergi dan Pulang
Salah satu poin paling menyentuh dalam ceramahnya adalah tentang hakikat kehidupan manusia yang diibaratkan sebagai perjalanan “Pergi dan Pulang”. Buya mengingatkan bahwa kita pergi dari rahim ibu untuk menjalani ujian di dunia, dan pada akhirnya akan pulang menuju Allah SWT.
Beliau mengajak jemaah untuk merencanakan “cara” pulang (kematian) yang indah. Caranya adalah dengan membangun kebiasaan baik (istiqamah) selama hidup. “Seseorang akan meninggal sesuai dengan kebiasaannya. Jika biasa bersama Al-Qur’an, insyaAllah ia akan wafat dalam keadaan mulia,” tuturnya.
Pesan Praktis bagi Jemaah
Sebagai langkah nyata menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat, Buya Hendri memberikan beberapa pesan penting:
- Belajar Membaca: Beliau mengimbau bagi siapa pun yang belum lancar agar tidak malu belajar, jangan sampai wafat dalam keadaan tidak bisa membaca Al-Qur’an.
- Memahami Makna: Minimal membaca terjemahan untuk memahami pesan Allah di dalamnya.
- Mempelajari Tafsir: Beliau sangat menyarankan agar setiap rumah Muslim setidaknya memiliki satu kitab tafsir lengkap 30 juz (seperti Tafsir Hamka, Al-Misbah, atau Ibnu Katsir) agar bisa melakukan tadabur secara mendalam.
Peringatan Nuzulul Qur’an ini ditutup dengan doa bersama, berharap agar Al-Qur’an benar-benar menjadi pembela dan sahabat yang menemani jemaah hingga di alam kubur nanti.