BOGOR — Mengiringi keberangkatan menuju Tanah Suci, sebuah acara tasyakuran atau Walimatussafar Haji telah sukses diselenggarakan di Masjid Al Kautsar pada Selasa, 12 Mei. Acara penuh khidmat ini digelar oleh Bapak Bambang Ria Santoso dan Ibu Sri Tamtini, dengan menghadirkan Dr. H. Hendri Tanjung, Ph.D. sebagai penceramah utama untuk memberikan bekal ruhiyah kepada calon jemaah haji dan para tamu undangan.Dalam kapasitasnya sebagai Pengasuh Pesantren Senior Citizen Al I’tisham Budi Agung, Buya Hendri Tanjung menyampaikan paparan yang mendalam, praktis, dan menyentuh hati terkait esensi ibadah haji. Dalam tausyiahnya, beliau menekankan beberapa poin krusial yang patut menjadi perenungan bagi seluruh umat Islam:Makna Ibadah Haji dan Pentingnya Mendaftar Dini:Buya Hendri menjelaskan bahwa secara terminologi, haji berarti Al-Qasdu atau “menyengaja menuju tempat yang mulia”. Oleh karena itu, ibadah haji harus benar-benar diniatkan dan direncanakan, bukan sesuatu yang dilakukan “tanpa sengaja”. Mengingat antrean jemaah haji di Indonesia saat ini sangat panjang hingga mencapai puluhan tahun, beliau sangat menganjurkan umat Islam untuk segera mendaftar sedini mungkin sejak ada rezeki, bahkan mendaftarkannya begitu baru menikah atau mendaftarkan anak-anaknya.Makna Hakiki Istita’ah (Kesanggupan):Berhaji diwajibkan bagi mereka yang memiliki kesanggupan (istita’ah).

Buya Hendri membedah kesanggupan ini ke dalam beberapa dimensiKemampuan Finansial: Tidak sekadar memiliki ongkos untuk berangkat, namun calon jemaah wajib memastikan ketersediaan dana nafkah untuk keluarga yang ditinggalkan di rumah agar tidak terlantar.Kemampuan Fisik: Rangkaian haji (seperti wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melontar jumrah di Mina) adalah ibadah fisik yang luar biasa menguras tenaga, sehingga kesehatan fisik menjadi syarat mutlak.Keamanan Perjalanan: Situasi global maupun rute perjalanan menuju Tanah Suci harus dipastikan aman tanpa ada peperangan.Tujuan Mulia Berhaji:Berhaji memiliki berbagai manfaat luar biasa bagi kehidupan seorang muslim, di antaranya adalah sarana pembersihan dari segala dosa guna mencapai Taubatan Nasuha. Haji juga menjadi ajang pemersatu umat Islam dari seluruh penjuru dunia, serta tempat terbaik untuk melatih kedisiplinan spiritual. Beliau menceritakan kebiasaan disiplin jemaah di Makkah yang berangkat ke masjid jauh sebelum waktu azan demi mendapatkan shaf terdepan.Indikator Utama Haji Mabrur:Di penghujung tausyiah, Buya Hendri memberikan catatan penting bahwa syarat mutlak meraih haji mabrur berawal dari harta yang sepenuhnya halal. Adapun indikator utama seseorang meraih predikat mabrur adalah terlihat pada saat kepulangannya: ketakwaannya harus bertambah. Contoh paling nyata bagi laki-laki adalah perubahan menjadi lebih disiplin dan senantiasa menunaikan salat wajib berjemaah di masjid, khususnya salat Subuh.

Acara tasyakuran yang dilangsungkan dari pukul 09.30 hingga 11.30 WIB ini berjalan lancar dan dipenuhi antusiasme jemaah yang hadir. Mari kita doakan bersama agar perjalanan Bapak Bambang Ria Santoso dan Ibu Sri Tamtini diberikan kemudahan, kelancaran, serta kembali ke Tanah Air dengan membawa predikat Haji yang Mabrur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *