BOGOR – Buya Hendri Tanjung, Ph.D tampil sebagai pemateri dalam kegiatan Sekolah Pranikah Bumi Ta’aruf yang diselenggarakan di Masjid Al I’tisham, Budi Agung, Bogor, pada Ahad, 6 September 2026. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan materi bertajuk “Akhlak Mulia pada Pasangan: Memaafkan” kepada para peserta calon pengantin yang mengikuti program pembekalan pranikah.H. Hendri Tanjung, Ph.D yang juga dikenal sebagai pengasuh Sekolah Pranikah Bumi Ta’aruf Al I’tisham Budi Agung Bogor ini mengawali materinya dengan mengupas kandungan QS. Al-A’raf [7]: 199-200, sebuah ayat yang memuat tiga pesan utama Allah ﷻ kepada Rasul-Nya dalam bermuamalah dengan sesama manusia, yakni: menjadi pribadi pemaaf, mengajak orang lain berbuat ma’ruf (kebaikan), serta berpaling dari sikap orang-orang yang jahil.Pertama: Jadilah Pribadi PemaafBuya Hendri menjelaskan bahwa sikap ‘afwu atau pemaaf berarti bersikap toleran terhadap kesalahan pasangan, tidak membesar-besarkan kekurangannya, serta senantiasa berterima kasih atas kebaikan yang telah diperbuat. Beliau mengutip penjelasan dalam Tafsir Al-Wajiz karya Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, bahwa Allah memerintahkan agar tidak membebani pasangan dengan tuntutan yang berat, sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ riwayat Bukhari dan Muslim: mudahkanlah, jangan mempersulit; berilah kegembiraan, jangan menyusahkan. Ditambahkan pula, sikap pemaaf ini mengajarkan agar seseorang tidak menyombongkan diri kepada siapa pun, baik karena usia, keterbatasan ilmu, maupun kondisi ekonomi pasangan, melainkan bergaul dengan lemah lembut dan lapang dada.Kedua: Mengajak Berbuat Ma’rufPoin kedua yang disampaikan adalah anjuran untuk saling menyuruh berbuat ma’ruf, yaitu kebiasaan baik yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam konteks rumah tangga, hal ini diwujudkan melalui tutur kata yang baik, saling mengajarkan ilmu, menyambung silaturahmi, berbakti kepada orang tua, mendamaikan perselisihan, serta saling menasihati dalam kebaikan dan ketakwaan sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir as-Sa’di dan Tafsir Al-Muyassar.Ketiga: Berpaling dari Sikap JahilMateri ditutup dengan pembahasan sikap menghadapi kejahilan, yaitu perilaku kasar atau menyakitkan yang mungkin muncul dari pasangan atau orang sekitar. Buya Hendri menekankan agar sikap tersebut tidak dibalas dengan tindakan serupa, melainkan disikapi dengan berpaling dan tidak melayani kebodohannya, sebagaimana diteladankan Rasulullah ﷺ dan dikuatkan oleh riwayat Umar bin Khattab dalam menghadapi Uyainah bin Hishn. Beliau juga mengingatkan pentingnya berlindung kepada Allah dari bisikan setan yang berupaya memancing kemarahan, sesuai penjelasan pada QS. Al-A’raf ayat 200.Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Sekolah Pranikah Bumi Ta’aruf yang secara rutin diselenggarakan di Masjid Al I’tisham, Budi Agung, Bogor, sebagai upaya membekali calon pengantin dengan ilmu dan akhlak yang mulia sebelum memasuki jenjang pernikahan. Para peserta tampak antusias mengikuti pemaparan materi hingga sesi tanya jawab berlangsung.(Tim Humas Sekolah Pranikah Bumi Ta’aruf Al I’tisham)