“, Buya H. Hendri Tanjung, Ph.D., menekankan bahwa salah satu kunci utama untuk melembutkan hati adalah dengan senantiasa mengingat kematian. Kematian bukanlah sesuatu yang jauh, melainkan sebuah kepastian yang sangat dekat bagi setiap orang yang beriman. Kesadaran akan dekatnya ajal ini seharusnya mendorong setiap Muslim untuk terus memperbaiki diri dan memperbanyak doa agar diwafatkan dalam keadaan yang baik atau husnul khatimah.
Mengutip Surah Ali Imran ayat 193, Buya menjelaskan pentingnya doa seorang mukmin yang memohon ampunan atas dosa-dosanya (dzunub) dan penghapusan atas kesalahan-kesalahannya (sayyiat). Berdasarkan tafsir para ulama, termasuk Syekh Nawawi Al-Bantani, terdapat perbedaan antara dzunub dan sayyiat. Dzunub merujuk pada dosa-dosa besar atau perbuatan maksiat yang dilakukan secara sadar, yang memerlukan pertobatan sungguh-sungguh untuk diampuni. Sementara itu, sayyiat adalah kesalahan-kesalahan kecil atau dosa yang tidak disengaja, yang dapat dihapuskan melalui amal-amal kebaikan dan ketaatan yang dilakukan secara istikamah.
Lebih lanjut, artikel ini menyoroti permohonan agar kita diwafatkan bersama orang-orang yang berbakti (wa tawaffana ma’al abrar). Buya memberikan gambaran nyata bahwa wafat dalam keadaan baik adalah dambaan setiap Muslim, seperti mereka yang meninggal saat bersujud dalam salat, saat membaca Al-Qur’an, atau ketika sedang berzikir. Sebaliknya, beliau juga mengingatkan agar kita menjauhkan diri dari perbuatan maksiat yang bisa mengantarkan pada kematian yang tercela (su’ul khatimah), seperti meninggal saat berjudi atau di tempat-tempat hiburan malam.
Sebagai penutup, kunci untuk meraih kelembutan hati dan akhir hayat yang mulia adalah dengan memperbanyak doa, memohon ampunan, dan konsisten dalam berbuat kebaikan. Dengan menjaga ketaatan dan menjauhi maksiat, diharapkan hati kita menjadi bercahaya dan kita layak ditempatkan bersama golongan orang-orang yang saleh saat maut menjemput nanti.