Bogor– Menjelang pergantian tahun baru Islam, Buya Hendri Tanjung, Ph.D., memberikan khotbah Jumat yang sarat akan pesan introspeksi diri di Masjid Al-I’tisham pada tanggal 12 Juni 2026. Dalam ceramahnya, beliau mengingatkan para jemaah akan pentingnya memanfaatkan sisa waktu hidup yang singkat di dunia demi mempersiapkan bekal menuju akhirat.
​Buya Hendri Tanjung membuka khotbahnya dengan merefleksikan bahwa dalam waktu tiga hari ke depan, umat Islam akan memasuki tahun baru 1448 Hijriah. Beliau menggarisbawahi makna penting di balik penanggalan Islam yang disandarkan pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW, bukan pada hari kelahiran beliau. Hal tersebut mengandung pelajaran esensial bahwa Islam menghendaki adanya perubahan nyata ke arah kebaikan seiring berjalannya waktu.
​Refleksi Kehidupan Melalui Surah Al-Asr
Mengutip Surah Al-Asr, Buya Hendri menyampaikan bahwa semua manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang memiliki empat kunci utama dalam menghadapi waktu
​Iman: Menjaga kekokohan iman agar terus meningkat
​Amal Saleh: Menjadi bukti nyata dari keimanan, layaknya buah dari sebuah pohon.
​Saling Menasihati dalam Kebenaran (Watawashau bil haq): Menjadikan kebenaran sebagai fondasi dalam setiap tindakan.
​Saling Menasihati dalam Kesabaran (Watawashau bis sabr): Mencontoh kesabaran Rasulullah SAW ketika menghadapi beratnya ujian dakwah.
​Beliau juga membagikan kabar duka mengenai wafatnya salah satu tokoh jemaah, Mayor Jenderal Purnawirawan Songko Purnomo (Mantan Kepala Staf Kostrad), yang juga merupakan rekan beliau dalam kepanitiaan pembangunan Masjid Baitussalam di Bogor Country. Kepergian rekan dekatnya tersebut dijadikan sebagai pengingat nyata bahwa setiap manusia pasti akan kembali menghadap Allah SWT.
​”Akhir tahun adalah momentum berharga bagi kita untuk mengevaluasi diri dengan tiga pertanyaan utama: Apa yang sudah dilakukan, apa yang belum dilakukan, dan mau dibawa ke arah mana sisa hidup kita? ” tutur Buya Hendri. Beliau juga menegaskan bahwa rumah sejati manusia di dunia ini pada akhirnya hanyalah tanah berukuran 2×1 meter.
​Kematian Adalah Sistem “Nomor Cabut”
Pada sesi khotbah kedua, Buya Hendri Tanjung mengutip hadis Rasulullah SAW mengenai umur umat Nabi Muhammad yang rata-rata berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Beliau mengingatkan agar jemaah tidak terlena dalam membuang-buang waktu yang terbatas.
​”Kematian itu bukan berdasarkan nomor urut, melainkan nomor cabut. Belum tentu yang lebih tua meninggal lebih dulu, dan belum tentu yang muda hidup lebih lama,” tegasnya.
​Atas dasar kesadaran pentingnya meningkatkan ilmu dan amal di usia senja, Masjid Al-I’tisham telah menginisiasi program Pesantren Seniorizen Al-I’tisham, yang dalam tiga hari ke depan akan genap berusia dua tahun. Pesantren tersebut mengusung moto “Pintu Gerbang Menuju Husnul Khatimah” yang bertujuan mengantarkan para jemaah lansia agar semakin giat beramal dan mengejar akhirat.
​Di akhir khotbah, suasana haru menyelimuti masjid ketika Buya Hendri mengenang wafatnya Pembina sekaligus Imam Besar Masjid Al-I’tisham, Prof. Dr. Khairul Anwar Sedegari, beberapa waktu yang lalu. Beliau mengajak seluruh jemaah untuk menundukkan kepala, mendoakan almarhum, serta memohon agar Allah SWT menerima amal ibadah dan mengampuni dosa-dosa umat Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *